Table of Contents
Lates Chapters
Cahpter 20
Deburan ombak di pesisir Tuppa’ Biring terdengar seperti bisikan masa lalu yang meminta pertanggungjawaban. Meski Ammaciang dan Bunga Rosi telah menghilang di balik kabut kegelapan, Itarawe tahu bahwa ketenangan ini hanyalah kulit luar dari sebuah badai yang tengah menghimpun tenaga. Hatinya masih bergetar…
Chapter 19
Langit di atas pegunungan Maros seolah turut berduka. Awan hitam berarak rendah, menelan cahaya rembulan hingga yang tersisa hanyalah kegelapan yang pekat. Di bawah bayangan tebing kapur yang menjulang angkuh, keheningan yang tercipta antara Itarawe dan Bunga Rosi terasa lebih tajam daripada mata…
Chapter 18
Matahari terbenam di balik pegunungan karst Maros, meninggalkan jejak warna jingga yang memudar menjadi ungu pekat. Itarawe dan Bunga Rosi berjalan menyisir jalan setapak yang diapit tebing-tebing kapur raksasa. Sunyi menyergap, hanya terdengar suara jangkrik dan langkah kaki mereka yang teratur di atas…
Chapter 17
Angin laut di Pelabuhan Somba yang biasanya membawa aroma rempah dan harapan, kini terasa amis dan menyesakkan. Kapal-kapal dagang bersandar kaku, layar-layarnya terkulai layu seolah turut merasakan aura kelam yang menyelimuti kota. Di pusat pelabuhan, kerumunan rakyat berkumpul dengan wajah beringas. Tangan-tangan yang…
Chapter 16
Lembah Hitam bergejolak. Kabut yang biasanya diam kini berputar-putar seperti pusaran napas naga yang murka. Kepergian Bunga Rosi di samping Itarawe bukan sekadar pelarian, melainkan deklarasi perang terhadap takdir kegelapan. Ammaciang, dari singgasananya yang terbuat dari akar-akar pohon terkutuk, merasakan setiap detak jantung…
Comments
You May Also Like
20 Chapters
Chapter 1: Cahpter 1
Pada zaman dahulu kala, di gugusan pulau yang tersebar di kepulauan Spermonde, di tengah Laut Makassar, terbentang sebuah perkampungan nelayan. Daratan itu tentram dihias kehidupan sederhana, rumah-rumah berjajar rapi, dan penduduk yang rajin melaut mencari rezeki dari luasnya samudra. Di antara barisan rumah…
ReadmoreChapter 2: Chapter 2
Begitulah cerita Dg Tonji sampai tertanam kebencian yang berurat berakar di hatinya sampai kasak-kusuk dari rumah ke rumah bercerita memburuk-burukkan namanya. Memfitnah agar suami istri itu dibenci di pulau tersebut. Begitulah bila cinta bertepuk sebelah tangan. Terik matahari bertambah menyengat tubuh dikala semua…
ReadmoreChapter 3: Cahpter 3
Bocah itu merangkak dengan tubuh lemah, lalu memeluk ikan besar itu, seakan melepaskan rindu yang menyesak di dadanya. Air matanya bercucuran, membasahi sisik yang dingin. Sementara seekor elang laut hanya bisa menggesekkan paruhnya pada pelipis si duyung, suaranya parau dan terputus-putus, matanya sayu…
ReadmoreChapter 4: Chapter 4
Bulan empat belas purnama yang agung kembali menaiki singgasananya di langit. Bulan yang kesekian kalinya disaksikan Itarawe dalam sepi. Malam itu, ia berdiri di tepi pantai tempat biasa ia menunggu. Wajahnya penuh harap, matanya sayu, menatap jauh ke tengah samudra. Gelombang berkilau bagai…
ReadmoreChapter 5: Chapter 5
Gemblengan alam, didikan ayah bundanya, serta bimbingan sang adik yang menjelma elang laut, menjadikan Itarawe tumbuh sebagai seorang pendekar. Tubuhnya kekar, terbentuk dari latihan yang ditempa setiap hari. Namun, sebagaimana penduduk lainnya, ia tetap menapaki hidup sebagai nelayan berjuang melaut demi menghidupi diri…
ReadmoreChapter 6: Chapter 6
“Menurut hematku, Dg Bella, tak salah lagi… anak setan itulah yang telah menyebabkan semua ini,” ujar Dg Menang, suaranya bergetar penuh kebencian. “Ikari’u, kau pasti sependapat denganku,” lanjutnya, menoleh pada pemuda tampan yang kala itu menyodorkan boda-boda, gelas bambu berisi tuak. Ikariu, masih…
ReadmoreChapter 7: Chapter 7
Itarawe kini telah berusia dua puluh tahun. Tubuhnya kekar, berotot, dan penuh tenaga buah dari latihan setiap hari, tempaan alam, dan ajaran orang tuanya yang kini telah menjelma menjadi ikan di lautan. Seperti biasa, selepas melatih ketangkasan dan ilmu bela diri warisan orang…
ReadmoreChapter 8: Chapter 8
Malam di Pulau Tuppa’ Biring tidak pernah benar-benar sunyi bagi mereka yang memiliki pendengaran batin. Pasca kegagalan fitnah Daeng Menang, suasana desa memang tampak tenang, namun di bawah permukaan, riak-riak intrik mulai membentuk gelombang besar. Bagi Itarawe, ketenangan ini hanyalah jeda sebelum badai…
ReadmoreChapter 9: Chapter 9
Matahari baru saja sepenggalah di ufuk timur Pulau Tuppa’ Biring. Cahayanya yang keemasan memantul di permukaan laut yang tenang, namun suasana di pasar pinggir pantai masih menyisakan sisa-sisa ketegangan semalam. Di antara riuhnya tawar-menawar ikan, nama Itarawe masih menjadi buah bibir yang diperdebatkan.…
ReadmoreChapter 10: Chapter 10
Di singgasana berhias tengkorak, Ammaciang duduk dengan tatapan membara. Obor yang berkedip di sekelilingnya menari-nari, melemparkan bayangan mengerikan ke dinding batu yang lembap. Udara dalam ruangan itu berat, sarat bau tanah kuburan yang menusuk hidung. “Bangkit!” suara sang ratu menggelegar, memecah kesunyian malam.…
ReadmoreChapter 11: Chapter 11
Langkah kaki Itarawe terasa ringan saat menyentuh pasir pantai yang masih menyimpan sisa hangat matahari. Di belakangnya, lampu-lampu minyak dari rumah penduduk Pulau Tuppa’ Biring berkelip seperti bintang yang jatuh ke bumi. Ada kedamaian baru yang ia rasakan. Fitnah Daeng Menang memang belum…
ReadmoreChapter 12: Chapter 12
Langit di atas Pulau Tuppa’ Biring yang tadinya tenang mendadak berubah menjadi kelam, seolah-olah awan hitam sengaja dipanggil untuk menutupi kejahatan yang tengah berlangsung. Itarawe berlari secepat kilat menyusuri pesisir. Penciumannya menangkap aroma yang sangat ia kenali: bau minyak tanah dan belerang yang…
ReadmoreChapter 13: Chapter 13
Kekalahan di halaman rumah Daeng Jikki bukanlah akhir bagi Daeng Menang. Baginya, itu hanyalah sebuah penghinaan yang harus dibayar dengan darah yang lebih kental. Dengan hati yang dipenuhi jelaga dendam, ia meninggalkan Pulau Tuppa’ Biring di bawah keremangan fajar, menumpang perahu nelayan yang…
ReadmoreChapter 14: Chapter 14
Langit Pulau Tuppa’ Biring mendadak tembaga. Burung-burung camar yang biasanya menari di atas buih ombak, kini terbang rendah menuju daratan, seolah tahu bahwa nafas kematian sedang ditiupkan dari arah barat. Di dermaga tua, sebuah kapal patorani dengan layar hitam legam merapat. Daeng Tongji…
ReadmoreChapter 15: Chapter 15
Kemenangan atas Daeng Tongji membawa ketenangan yang telah lama hilang di Pulau Tuppa’ Biring. Namun, bagi Itarawe, ketenangan itu terasa seperti air yang tenang di permukaan namun bergolak di kedalaman. Suara ombak yang biasanya menidurkannya, kini terdengar seperti panggilan dari kejauhan. Ia menyadari…
ReadmoreChapter 16: Chapter 16
Lembah Hitam bergejolak. Kabut yang biasanya diam kini berputar-putar seperti pusaran napas naga yang murka. Kepergian Bunga Rosi di samping Itarawe bukan sekadar pelarian, melainkan deklarasi perang terhadap takdir kegelapan. Ammaciang, dari singgasananya yang terbuat dari akar-akar pohon terkutuk, merasakan setiap detak jantung…
ReadmoreChapter 17: Chapter 17
Angin laut di Pelabuhan Somba yang biasanya membawa aroma rempah dan harapan, kini terasa amis dan menyesakkan. Kapal-kapal dagang bersandar kaku, layar-layarnya terkulai layu seolah turut merasakan aura kelam yang menyelimuti kota. Di pusat pelabuhan, kerumunan rakyat berkumpul dengan wajah beringas. Tangan-tangan yang…
ReadmoreChapter 18: Chapter 18
Matahari terbenam di balik pegunungan karst Maros, meninggalkan jejak warna jingga yang memudar menjadi ungu pekat. Itarawe dan Bunga Rosi berjalan menyisir jalan setapak yang diapit tebing-tebing kapur raksasa. Sunyi menyergap, hanya terdengar suara jangkrik dan langkah kaki mereka yang teratur di atas…
ReadmoreChapter 19: Chapter 19
Langit di atas pegunungan Maros seolah turut berduka. Awan hitam berarak rendah, menelan cahaya rembulan hingga yang tersisa hanyalah kegelapan yang pekat. Di bawah bayangan tebing kapur yang menjulang angkuh, keheningan yang tercipta antara Itarawe dan Bunga Rosi terasa lebih tajam daripada mata…
ReadmoreChapter 20: Cahpter 20
Deburan ombak di pesisir Tuppa’ Biring terdengar seperti bisikan masa lalu yang meminta pertanggungjawaban. Meski Ammaciang dan Bunga Rosi telah menghilang di balik kabut kegelapan, Itarawe tahu bahwa ketenangan ini hanyalah kulit luar dari sebuah badai yang tengah menghimpun tenaga. Hatinya masih bergetar…
Readmore





