LEGENDA TUPPA’ BIRING

By: Rizal Salim
401 Readers 20 Chapters 9.9

Dystopia

Legenda Tuppa' Biring merupakan legenda dan gabungan sejarah para pendekar dari tanah Bugis - Makassar dalam menegakkan keadilan dan membela kebenaran. Intrik bathin, emosi dan perpaduan syair bahasa Makassar.
Read Share

Table of Contents

Lates Chapters

Cahpter 20

Deburan ombak di pesisir Tuppa’ Biring terdengar seperti bisikan masa lalu yang meminta pertanggungjawaban. Meski Ammaciang dan Bunga Rosi telah menghilang di balik kabut kegelapan, Itarawe tahu bahwa ketenangan ini hanyalah kulit luar dari sebuah badai yang tengah menghimpun tenaga. Hatinya masih bergetar…

Chapter 19

Langit di atas pegunungan Maros seolah turut berduka. Awan hitam berarak rendah, menelan cahaya rembulan hingga yang tersisa hanyalah kegelapan yang pekat. Di bawah bayangan tebing kapur yang menjulang angkuh, keheningan yang tercipta antara Itarawe dan Bunga Rosi terasa lebih tajam daripada mata…

Chapter 18

Matahari terbenam di balik pegunungan karst Maros, meninggalkan jejak warna jingga yang memudar menjadi ungu pekat. Itarawe dan Bunga Rosi berjalan menyisir jalan setapak yang diapit tebing-tebing kapur raksasa. Sunyi menyergap, hanya terdengar suara jangkrik dan langkah kaki mereka yang teratur di atas…

Chapter 17

Angin laut di Pelabuhan Somba yang biasanya membawa aroma rempah dan harapan, kini terasa amis dan menyesakkan. Kapal-kapal dagang bersandar kaku, layar-layarnya terkulai layu seolah turut merasakan aura kelam yang menyelimuti kota. Di pusat pelabuhan, kerumunan rakyat berkumpul dengan wajah beringas. Tangan-tangan yang…

Chapter 16

Lembah Hitam bergejolak. Kabut yang biasanya diam kini berputar-putar seperti pusaran napas naga yang murka. Kepergian Bunga Rosi di samping Itarawe bukan sekadar pelarian, melainkan deklarasi perang terhadap takdir kegelapan. Ammaciang, dari singgasananya yang terbuat dari akar-akar pohon terkutuk, merasakan setiap detak jantung…

Comments

Tinggalkan komentar

You May Also Like

andy.lorenza
Aryati Mudjiono
eli.budianto
dwi.fitriani
20 Chapters

Chapter 1: Cahpter 1

Oleh: Rizal Salim
Pada zaman dahulu kala, di gugusan pulau yang tersebar di kepulauan Spermonde, di tengah Laut Makassar, terbentang sebuah perkampungan nelayan. Dara­tan itu tentram dihias kehidupan sederhana, rumah-rumah berjajar rapi, dan penduduk yang rajin melaut mencari rezeki dari luasnya samudra. Di antara barisan rumah…
Readmore

Chapter 2: Chapter 2

Oleh: Rizal Salim
Begitulah cerita Dg Tonji sampai tertanam kebencian yang berurat berakar di hatinya sampai kasak-kusuk dari rumah ke rumah bercerita memburuk-burukkan namanya. Memfitnah agar suami istri itu dibenci di pulau tersebut. Begitulah bila cinta bertepuk sebelah tangan. Terik matahari bertambah menyengat tubuh dikala semua…
Readmore

Chapter 3: Cahpter 3

Oleh: Rizal Salim
Bocah itu merangkak dengan tubuh lemah, lalu memeluk ikan besar itu, seakan melepaskan rindu yang menyesak di dadanya. Air matanya bercucuran, membasahi sisik yang dingin. Sementara seekor elang laut hanya bisa menggesekkan paruhnya pada pelipis si duyung, suaranya parau dan terputus-putus, matanya sayu…
Readmore

Chapter 4: Chapter 4

Oleh: Rizal Salim
Bulan empat belas purnama yang agung kembali menaiki singgasananya di langit. Bulan yang kesekian kalinya disaksikan Itarawe dalam sepi. Malam itu, ia berdiri di tepi pantai tempat biasa ia menunggu. Wajahnya penuh harap, matanya sayu, menatap jauh ke tengah samudra. Gelombang berkilau bagai…
Readmore

Chapter 5: Chapter 5

Oleh: Rizal Salim
Gemblengan alam, didikan ayah bundanya, serta bimbingan sang adik yang menjelma elang laut, menjadikan Itarawe tumbuh sebagai seorang pendekar. Tubuhnya kekar, terbentuk dari latihan yang ditempa setiap hari. Namun, sebagaimana penduduk lainnya, ia tetap menapaki hidup sebagai nelayan berjuang melaut demi menghidupi diri…
Readmore

Chapter 6: Chapter 6

Oleh: Rizal Salim
“Menurut hematku, Dg Bella, tak salah lagi… anak setan itulah yang telah menyebabkan semua ini,” ujar Dg Menang, suaranya bergetar penuh kebencian. “Ikari’u, kau pasti sependapat denganku,” lanjutnya, menoleh pada pemuda tampan yang kala itu menyodorkan boda-boda, gelas bambu berisi tuak. Ikariu, masih…
Readmore

Chapter 7: Chapter 7

Oleh: Rizal Salim
Itarawe kini telah berusia dua puluh tahun. Tubuhnya kekar, berotot, dan penuh tenaga buah dari latihan setiap hari, tempaan alam, dan ajaran orang tuanya yang kini telah menjelma menjadi ikan di lautan. Seperti biasa, selepas melatih ketangkasan dan ilmu bela diri warisan orang…
Readmore

Chapter 8: Chapter 8

Oleh: Rizal Salim
Malam di Pulau Tuppa’ Biring tidak pernah benar-benar sunyi bagi mereka yang memiliki pendengaran batin. Pasca kegagalan fitnah Daeng Menang, suasana desa memang tampak tenang, namun di bawah permukaan, riak-riak intrik mulai membentuk gelombang besar. Bagi Itarawe, ketenangan ini hanyalah jeda sebelum badai…
Readmore

Chapter 9: Chapter 9

Oleh: Rizal Salim
Matahari baru saja sepenggalah di ufuk timur Pulau Tuppa’ Biring. Cahayanya yang keemasan memantul di permukaan laut yang tenang, namun suasana di pasar pinggir pantai masih menyisakan sisa-sisa ketegangan semalam. Di antara riuhnya tawar-menawar ikan, nama Itarawe masih menjadi buah bibir yang diperdebatkan.…
Readmore

Chapter 10: Chapter 10

Oleh: Rizal Salim
Di singgasana berhias tengkorak, Ammaciang duduk dengan tatapan membara. Obor yang berkedip di sekelilingnya menari-nari, melemparkan bayangan mengerikan ke dinding batu yang lembap. Udara dalam ruangan itu berat, sarat bau tanah kuburan yang menusuk hidung. “Bangkit!” suara sang ratu menggelegar, memecah kesunyian malam.…
Readmore

Chapter 11: Chapter 11

Oleh: Rizal Salim
Langkah kaki Itarawe terasa ringan saat menyentuh pasir pantai yang masih menyimpan sisa hangat matahari. Di belakangnya, lampu-lampu minyak dari rumah penduduk Pulau Tuppa’ Biring berkelip seperti bintang yang jatuh ke bumi. Ada kedamaian baru yang ia rasakan. Fitnah Daeng Menang memang belum…
Readmore

Chapter 12: Chapter 12

Oleh: Rizal Salim
Langit di atas Pulau Tuppa’ Biring yang tadinya tenang mendadak berubah menjadi kelam, seolah-olah awan hitam sengaja dipanggil untuk menutupi kejahatan yang tengah berlangsung. Itarawe berlari secepat kilat menyusuri pesisir. Penciumannya menangkap aroma yang sangat ia kenali: bau minyak tanah dan belerang yang…
Readmore

Chapter 13: Chapter 13

Oleh: Rizal Salim
Kekalahan di halaman rumah Daeng Jikki bukanlah akhir bagi Daeng Menang. Baginya, itu hanyalah sebuah penghinaan yang harus dibayar dengan darah yang lebih kental. Dengan hati yang dipenuhi jelaga dendam, ia meninggalkan Pulau Tuppa’ Biring di bawah keremangan fajar, menumpang perahu nelayan yang…
Readmore

Chapter 14: Chapter 14

Oleh: Rizal Salim
Langit Pulau Tuppa’ Biring mendadak tembaga. Burung-burung camar yang biasanya menari di atas buih ombak, kini terbang rendah menuju daratan, seolah tahu bahwa nafas kematian sedang ditiupkan dari arah barat. Di dermaga tua, sebuah kapal patorani dengan layar hitam legam merapat. Daeng Tongji…
Readmore

Chapter 15: Chapter 15

Oleh: Rizal Salim
Kemenangan atas Daeng Tongji membawa ketenangan yang telah lama hilang di Pulau Tuppa’ Biring. Namun, bagi Itarawe, ketenangan itu terasa seperti air yang tenang di permukaan namun bergolak di kedalaman. Suara ombak yang biasanya menidurkannya, kini terdengar seperti panggilan dari kejauhan. Ia menyadari…
Readmore

Chapter 16: Chapter 16

Oleh: Rizal Salim
Lembah Hitam bergejolak. Kabut yang biasanya diam kini berputar-putar seperti pusaran napas naga yang murka. Kepergian Bunga Rosi di samping Itarawe bukan sekadar pelarian, melainkan deklarasi perang terhadap takdir kegelapan. Ammaciang, dari singgasananya yang terbuat dari akar-akar pohon terkutuk, merasakan setiap detak jantung…
Readmore

Chapter 17: Chapter 17

Oleh: Rizal Salim
Angin laut di Pelabuhan Somba yang biasanya membawa aroma rempah dan harapan, kini terasa amis dan menyesakkan. Kapal-kapal dagang bersandar kaku, layar-layarnya terkulai layu seolah turut merasakan aura kelam yang menyelimuti kota. Di pusat pelabuhan, kerumunan rakyat berkumpul dengan wajah beringas. Tangan-tangan yang…
Readmore

Chapter 18: Chapter 18

Oleh: Rizal Salim
Matahari terbenam di balik pegunungan karst Maros, meninggalkan jejak warna jingga yang memudar menjadi ungu pekat. Itarawe dan Bunga Rosi berjalan menyisir jalan setapak yang diapit tebing-tebing kapur raksasa. Sunyi menyergap, hanya terdengar suara jangkrik dan langkah kaki mereka yang teratur di atas…
Readmore

Chapter 19: Chapter 19

Oleh: Rizal Salim
Langit di atas pegunungan Maros seolah turut berduka. Awan hitam berarak rendah, menelan cahaya rembulan hingga yang tersisa hanyalah kegelapan yang pekat. Di bawah bayangan tebing kapur yang menjulang angkuh, keheningan yang tercipta antara Itarawe dan Bunga Rosi terasa lebih tajam daripada mata…
Readmore

Chapter 20: Cahpter 20

Oleh: Rizal Salim
Deburan ombak di pesisir Tuppa’ Biring terdengar seperti bisikan masa lalu yang meminta pertanggungjawaban. Meski Ammaciang dan Bunga Rosi telah menghilang di balik kabut kegelapan, Itarawe tahu bahwa ketenangan ini hanyalah kulit luar dari sebuah badai yang tengah menghimpun tenaga. Hatinya masih bergetar…
Readmore
error: Content is protected !!