Table of Contents
- Chapter 1: Bab 1 : Berawal dari Api
- Chapter 2: Bab 2 : Karelia dan Vitania
- Chapter 3: Bab 3 : Bukan Kembang Api
- Chapter 4: Bab 4 : Gadis Penyihir
- Chapter 5: Bab 5 : Pertemuan
- Chapter 6: Bab 6 : Keputusasaan, Kesejahteraan, Keadilan
- Chapter 7: Bab 7 : Keberangkatan
- Chapter 8: Bab 8 : Penelitian
- Chapter 9: Bab 9 : Sebuah Rumah di Selenaberg
- Chapter 10: Bab 10 : Toko Roti di Tengah Kota
Lates Chapters
Bab 77 : Bersamamu, Selamanya
Awan gelap mulai menutupi sinar Formalha, pertanda hujan akan turun di ibukota Sentralberg. Angin pun berhembus walau tak kencang. Sementara itu di pusat kota, suara ledakan, tembakan, hingga adu sihir sudah tak terdengar lagi. Menyerahnya Rocky Calais menjadi penanda bahwa operasi pembebasan itu…
Bab 76 : Penghakiman
WUSHH Pusaran angin yang sangat kencang itu tiba-tiba menghilang tanpa sebab. Lingkaran sihir yang sebelumnya berputar di udara juga lenyap tak bersisa. Kini yang terlihat hanyalah seorang Alisa Garbareva yang tengah mengangkat belatinya ke langit tanpa dikelilingi sihir apapun, serta Linne Helenawicz yang…
Bab 75 : Senyap
Angin berhembus semakin kencang. Suara adu senjata hingga ledakan sihir masih terdengar di seantero ibukota Sentralberg. Namun tidak ada hal lain yang bisa dilakukan oleh seorang Alisa Garbareva. Gadis Telhi itu hanya tersimpuh dengan tatapan kosong. Di depannya terbaring kaku tubuh sahabatnya, Floria…
Bab 74 : Sang Raja yang Serakah
“Uhuk... uhuk...” Debu yang berterbangan dari reruntuhan itu membuat keduanya terbatuk-batuk. Kedua gadis itu terjatuh dari lantai atas akibat sebuah ledakan hingga terhempas ke lantai bawah. Namun untungnya mereka masih selamat. Perlahan debu pun menghilang dan mereka berdua bisa melihat apa yang sedang…
Bab 73 : Ruangan Sebelah
Hawa dingin menembus kulit mereka berdua. Perlahan keduanya pun membuka mata. “Dimana ini?” Dua gadis itu mendapati diri mereka terbaring di atas lantai dalam sebuah ruangan yang dingin dan cukup gelap. Mereka menengok ke sekitar. Terlihat ada sejumlah peralatan aneh berwarna perak yang…
Comments
20 Chapters
Chapter 1: Bab 1 : Berawal dari Api
Hawa panas begitu terasa di depan wajah mereka. Kedua belas perawat bergaun hitam dengan corak putih di lehernya itu berusaha mencari orang-orang yang masih bisa diselamatkan. Sayangnya hampir semua rumah disini sudah musnah dilalap api. “Apa masih ada orang disini?” teriak seorang Perawat.…
ReadmoreChapter 2: Bab 2 : Karelia dan Vitania
Tamparan anak laki-laki yang diarahkan pada Flo itu berhasil dicegah oleh sang perawat. Weiss Karny yang baru saja mengobati luka Alisa menahan tangan anak laki-laki itu dan menatapnya dengan tajam. “Si-sister Weiss?” “Apa yang kau lakukan, Abraham? Menampar seorang gadis, apakah hal ini…
ReadmoreChapter 3: Bab 3 : Bukan Kembang Api
BOOM Bola-bola api yang pecah di angkasa itu menghantam berbagai objek yang ada di permukaan tanah. Jalan, kebun, hingga rumah warga, semuanya terkena serangan itu dan terbakar hebat. Sirine kota pun berbunyi. Kedamaian dan ketenteraman itu langsung berubah menjadi ketakutan dan kepanikan. “ADA…
ReadmoreChapter 4: Bab 4 : Gadis Penyihir
“JANGAAANNNN!!” KRIINNNGGGGG Alarm berbunyi pertanda pagi telah tiba. Sinar dari bintang biru Formalha yang baru saja terbit dari ufuk timur menyilaukan mata dari jendela. Alisa terbangun dari mimpi yang mengerikan itu, dan baru sadar bahwa ia tengah berada di kamar asrama. “Oh, sudah…
ReadmoreChapter 5: Bab 5 : Pertemuan
Alisa dan Frenska membaca pesan yang dikirimkan melalui cincin Angkenya. Ternyata benar tebakan mereka. Itu adalah pesan misi yang disampaikan pada keduanya. “Perintah kepada Alisa Garbareva dari Kelas 2-F dan Frenska Albertovia dari kelas 2-F agar segera berkumpul di aula sekolah. Tertanda Ny.…
ReadmoreChapter 6: Bab 6 : Keputusasaan, Kesejahteraan, Keadilan
Angin malam yang dingin meniup rambut panjangnya itu. Wajah yang anggun nan dingin itu terlihat jelas melalui sinar purnama. Gadis itu hanya diam saja melihat Alisa Garbareva yang kebingungan setelah melihat paras wajahnya. Dirinya benar-benar tak menyangka akan bertemu kembali dengan teman lamanya…
ReadmoreChapter 7: Bab 7 : Keberangkatan
Pagi telah tiba. Sang bintang biru Formalha kembali menyinari Kartovik. Di hari yang cerah ini saatnya bagi Alisa untuk pergi dari sekolahnya demi melaksanakan Program Akselerasi ke wilayah yang dikenal tertutup dan misterius, Daerah Otonom Vitania di timur Kerajaan Archipelahia. Hari ini Frenska…
ReadmoreChapter 8: Bab 8 : Penelitian
Ayam berkokok di pagi hari terdengar jelas disini, hal yang tak mungkin bisa ditemukan di Kartovik maupun kota besar lainnya. Ini karena Vestaria sendiri hanyalah sebuah kota kecil yang kumuh. Jalanan aspal disini banyak yang berlubang, sebagiannya lagi bahkan masih berupa tanah basah.…
ReadmoreChapter 9: Bab 9 : Sebuah Rumah di Selenaberg
BRUMM BRUMM Sebuah kendaraan bermotor dengan dua roda melesat di jalan raya yang terletak di tengah hutan itu. Kendaraan yang disebut sebagai Motosicca itu dikendarai oleh dua orang gadis. Mereka berangkat dari Vestaria menuju sebuah kota yang lebih besar yang terletak di tengah-tengah…
ReadmoreChapter 10: Bab 10 : Toko Roti di Tengah Kota
Mentari naik ke atas langit menyinari daratan Vitania di planet Kamina ini. Gadis berambut pendek bernama Alisa Garbareva itu terlihat sedang membantu teman lamanya Floria memetik bunga. Berbagai jenis bunga di kebun itu mereka petik untuk nantinya dijual pada masyarakat kota. “Segini sudah…
ReadmoreChapter 11: Bab 11 : Keluarga Sederhana
“Huh... huh... huh...” “WOY BERHENTI KAU BOCAH SIALAN!!” Seorang pria berusia 30 tahunan terlihat mengejar seseorang di sebuah gang sempit hingga masuk ke trotoar samping jalan besar. Pengejaran itu sempat membuat arus lalu lintas menjadi terhambat. “TAKKAN KUBIARKAN KAU LEPAS!!” Pria itu nampak…
ReadmoreChapter 12: Bab 12 : Dibalik Kegelapan Malam
Rembulan perlahan naik ke atas. Tak seperti biasanya di mana Alisa merangkum informasi yang ia dapatkan, kali ini dirinya hanya melamun sambil berbaring di tempat tidur dan memeluk sebuah bantal. Flo pun menghampirinya. “Alisa, kau tidak merangkum lagi?” “Tidak. Nanti saja,” jawabnya dengan…
ReadmoreChapter 13: Bab 13 : Sebuah Rahasia
Fajar telah tiba. Beberapa orang di kota masih tertidur lelap, namun sebagian sudah ada yang keluar rumah. Mereka ada yang bergegas untuk bekerja, dan ada pula yang hanya sekedar membersihkan halamannya. Pintu sebuah apartemen kecil dibuka perlahan oleh seorang wanita agar tidak menimbulkan…
ReadmoreChapter 14: Bab 14 : Sang Guntur dari Angkasa
BRUM BRUMM Perempuan bernama Floria itu mengemudikan Motosicca-nya dengan cepat. Raut wajahnya masih menunjukkan amarah pada saat itu hingga dirinya hampir tidak fokus memperhatikan jalan yang ia lalui untuk pergi ke Trossbourgh. “Cih, kenapa?” Flo bergumam. Motosicca yang dikendarainya melewati genangan air hingga…
ReadmoreChapter 15: Bab 15 : Dinasti Schneider
Sebuah gerbang yang cukup besar berada tepat di depan mata mereka. Gerbang mewah itu dilapisi oleh marmer putih dengan hiasan berwarna emas pada sisi dindingnya. Itu bukanlah besi yang dicat oleh warna emas, melainkan benar-benar emas murni sungguhan. Tepat setelah mereka masuk, terlihat…
ReadmoreChapter 16: Bab 16 : Dibalik Emas
Alisa Garbareva benar-benar tak menyangka bahwa penelitiannya kali ini akan mengantarkan dirinya pada salah satu tokoh bangsawan Vitania. Itu artinya dirinya akan mendapatkan informasi yang sangat menarik tentang apa yang terjadi di daerah otonom ini. “I-ini keren sekali. Natasha, maksud saya, Nyonya Natasha.…
ReadmoreChapter 17: Bab 17 : Pesta Malam
BRUMM BRUMM Kedua gadis itu kembali melanjutkan perjalanannya menuju arah utara. Kini mereka melewati sebuah jalan raya dengan jajaran hutan bioma taiga di samping kiri dan kanannya. Suhu disini lebih dingin dibandingkan saat di jalan penghubung Matrotshaven dengan Salzyburg. Tidak terlalu mengherankan karena…
ReadmoreChapter 18: Bab 18 : Kota Masyarakat Timur
BRUMM BRUMM Kedua gadis itu kembali melanjutkan perjalanan mereka setelah menetap hampir seminggu di Trossbourgh. Kota yang ramai dan dipenuhi masyarakat yang lebih terbuka itu begitu menarik perhatian Alisa. Banyak sekali informasi menarik yang diperoleh gadis Karelia itu di kota tertua se-Vitania tersebut.…
ReadmoreChapter 19: Bab 19 : Dilema
Kegelapan menyelimuti semuanya. Tidak ada hal lain yang mampu dilihat oleh orang itu. Hanya terdengar suara menggema dari seorang wanita yang tengah merapalkan sebuah mantra. “Wahai permata suci yang ada di Tanah Kamina agung ini...” Suara itu nampak jelas di telinganya. “...aku memerintahkanmu…
ReadmoreChapter 20: Bab 20 : Air dan Api
“Flo, kau serius mau berduel dengan Ketua Himmler?” tanya Nikita. “Tentu saja. Tidak ada cara lain selain mengalahkannya,” jawab Flo. “Tapi, Ketua Himmler itu gadis penyihir senior dengan kemampuan sihir api yang mengerikan. Kadet seperti kita tidak mungkin bisa mengalahkannya.” Gadis berambut kuncir…
Readmore





