Table of Contents
- Chapter 1: 1. KALIAN PENGKHIANAT
- Chapter 2: 2. BIARKAN SAJA AKU MATI
- Chapter 3: 3. SEMESTA SEDANG BERCANDA
- Chapter 4: 4. KEMARAHAN GEMA
- Chapter 5: 5. KACAUNYA ANITA
- Chapter 6: 6. ADA RAHASIA
- Chapter 7: 7. LAGI-LAGI BERKELAHI
- Chapter 8: 8. PERTEMUAN TAK TERDUGA
- Chapter 9: 9. CERITA DARI BU EEM
- Chapter 10: 10. PELAN-PELAN TERUNGKAP
Lates Chapters
49. EKSTRA PART 2 (TAMAT)
SEMBILAN TAHUN KEMUDIAN! • "Dirga! Jangan kencang-kencang larinya, Nak!" teriak Anita, sembari mengejar bocah laki-laki yang berlari sambil membawa pesawat mainan di tangannya. "Hap! Ayah berhasil menangkap sang pilot kecil yang nakal ini." Gema Dirgantara, langsung menggendong sang putra, setibanya…
48. EKSTRA PART 1 (Kabar Bahagia )
"Gimana perjalan tadi, Sayang? Kamu merasa nyaman kan?" "Heum, iya. Aku merasa nyaman banget." Sepasang suami istri itu, berjalan sambil bergandengan tangan. Belum ada tiga puluh menit, pesawat dari yang dari dari Swees baru saja mendarat di bandara internasional Soekarno-Hatta, Anita…
47. TAMAT (END)
"Kamu sudah pulang, Sayang?" ucap Anita, menyambut kedatang Gema, seraya mencium punggung tangannya, sebagai tanda bakti seorang istri kepada suami. "Iya. Hari ini aku sangat lelah sekali," keluh Gema, terlihat memijat-mijat lehernya yang terasa kaku dan pegal. "Kamu mandi dulu, habis…
46. TELAH SELESAI
[Lu lagi di mana?] [Lagi di rumah sakit. Ada apa?] Gema tersenyum lembut, saat menyuapi Anita dan mengobrol dengan seseorang di telpon. [Siapa yang sakit? Anita?] [Iya. Ceritanya panjang pokoknya. Itu mah bahas nanti aja. Lu sendiri, kenapa telpon?] …
45. ADA YANG DITANGKAP
Gema langsung membawa Anita ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan, begitu juga dengan Sari dan satpam yang berjaga di rumahnya. Dikarenakan mengalami luka berat akibat dipukuli berulang kali sampai tidak sadarkan diri, Pamannya juga harus dilarikan ke rumah sakit. Namun, diawasi oleh…
Comments
20 Chapters
Chapter 1: 1. KALIAN PENGKHIANAT
"Saya nikahkan dan kawinkan, Ananda Anita Apsari binti Almarhum Sueb, dengan Angga Wijaya dengan maskawin emas seberat satu kilogram, uang sepuluh juta, satu unit rumah dan seperangkat alat sholat dibayar tunai!" "Saya terima nikahnya, Anita Apsari binti Almarhum Sueb dengan maskawin dibayar…
ReadmoreChapter 2: 2. BIARKAN SAJA AKU MATI
"JAGA UCAPANMU, DIRGANTARA!" teriak Angga Wijaya sangat keras. "MAS TUNGGU!" Suara Anita tidak kalah kencang. Hal tersebut membuat Angga Wijaya tidak melanjutkan aksinya. Tangan kanannya, berada beberapa sentimeter dari wajah Gema. "Cukup, Mas! Kamu jangan lakukan kekerasan lagi. Sabar, Mas," pinta…
ReadmoreChapter 3: 3. SEMESTA SEDANG BERCANDA
Halaman parkir. Gema sudah berada di dalam mobil. Entah mobil siapa itu, sebab mobilnya sedang berada di bengkel, setelah ia adu dengan pohon besar. Dalam hitungan detik, mobil itu tancap gas meninggalkan area rumah sakit. Sementara itu, hanya berselang beberapa detik,…
ReadmoreChapter 4: 4. KEMARAHAN GEMA
Satu jam kemudian. Angga Wijaya terlihat mondar-mandir di ruang tamu, seperti setrikaan panas. Perasaannya begitu gelisah, setelah mendapat kabar bahwasanya sang putra, jatuh pingsan di salah satu tempat hiburan malam. Putranya itu, memang brutal, disaat perasaannya sedang tidak baik-baik saja. Sesekali…
ReadmoreChapter 5: 5. KACAUNYA ANITA
LIMA HARI SEBELUM PERNIKAHAN TERJADI. ••• Tok! Tok! Tok! Suara pintu yang diketuk berulang kali. "Iya, sebentar!" seru Anita, yang berjalan tergesa-gesa dari ruang dapur rumahnya. Suara ketukan itu, membuatnya menghentikan segala aktivitas di dapur. "Siap itu, Neng?"…
ReadmoreChapter 6: 6. ADA RAHASIA
"Dek." Panggilan tersebut, sontak menyadarkan Anita dari lamunannya. Pikirannya kembali pada detik ini. Suara berat, disertai sentuhan lembut itu, membuat Anita mengulas senyuman tipis, yang sebenarnya ia buat-buat, guna menutupi kesedihannya. "Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Angga Wijaya sembari…
ReadmoreChapter 7: 7. LAGI-LAGI BERKELAHI
BUK! Pukulan keras diterima Gema tepat di wajahnya. Saking kerasnya tinju itu, sampai membuat ia tersungkur ke lantai. Dia menatap lurus ayahnya yang sedang dipenuhi emosi yang tak terkendali setelah mendengar kalimatnya. "Anak kurang aja kamu, Gema! Selama ini Ayah…
ReadmoreChapter 8: 8. PERTEMUAN TAK TERDUGA
Satu setengah jam kemudian. Mobil yang dikendarai Juna pun, telah memasuki kawasan puncak. "Mampir ke warung makan dulu yuk! Gue laper, belum makan dari pagi," keluh Juna sambil mengelus perut rampingnya itu. Juna pun menepikan mobilnya ke sisi kiri jalan. …
ReadmoreChapter 9: 9. CERITA DARI BU EEM
"Alhamdulillah. Ya Allah. Saya seneng banget, denger kabar kalau kalian sudah menikah. Anita benar-benar mencintai, Mas Gema. Dia senang banget kalau cerita tentang Mas Gema, ke saya." Setiap pengakuan Bu Eem membuat Gema tersenyum. Ada kesan bahagia di dalam hatinya, seolah kisah…
ReadmoreChapter 10: 10. PELAN-PELAN TERUNGKAP
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih dua jam. Mobil pun mulai memasuki perkampungan. Rumah Anita memang masih pelosok dan padat penduduk. Mobil pun berhenti di tanah kosong, lebih tepatnya lapangan bola untuk anak-anak di sana. "Lu aja yang cari tahu, gue malas…
ReadmoreChapter 11: 11. KESEDIHAN ANITA
MALAM ITU. Anita yang kebingungan mencari uang 15 juta dalam waktu singkat, akhirnya memutuskan pergi ke kediaman keluarga Wijaya. Hanya keluarga Wijaya saja yang Anita percaya untuk bisa menolongnya. "Pak, tunggu sebentar. Saya masuk dulu," kata Anita kepada kang ojek…
ReadmoreChapter 12: 12. KEBERSAMAAN ANGGA DAN ANITA
"Dek." Suara bariton itu, seketika menyadarkan gadis cantik yang sedang duduk di tepi ranjang, dari lamunannya. Sentuhan lembut Angga Wijaya di bahu membuat Anita mendongak. Pandangan keduanya pun saling bertemu. "Mas," ucapnya terdengar lirih. Buru-buru ia menyeka kristal bening yang…
ReadmoreChapter 13: 13. GEMA PULANG
Meninggalkan kebersamaan yang sedang dirajut Anita dan Angga Wijaya. Di tempat terpisah. Gema yang sedang tertidur dalam posisi tengkurap pun, perlahan-lahan membuka matanya. Ada rasa sakit yang luar biasa sedang memberatkan tubuhnya. Ia merasa badannya seperti ditimpah batu berukuran sangat besar. …
ReadmoreChapter 14: 14. KERIBUTAN LAGI
"DIRGANTARA!" teriak Angga Wijaya, yang sudah menggenggam erat kerah baju sang putra dan siap melayangkan sebuah pukulan keras. "Mas Angga! Berhenti!" Namun, tindakan tersebut berhenti, tepat saat seruan itu menyeruak. Menembus gendang telinga dua pria yang memiliki hubungan kuat itu. …
ReadmoreChapter 15: 15. KELAKUAN GEMA DIRGANTARA
SEPULUH MENIT KEMUDIAN. Pria yang akrab dipanggil Pak Wishnu itu, akhirnya datang. Ia membawa langkah pasti, memasuki ruangan yang sedang memanas itu Gema memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku celana sambil berjalan santai. Ia yang lebih dulu menyambut Pak Wishnu. …
ReadmoreChapter 16: 16. KEMELUT KELUARGA WIJAYA
"Bagaimana kondisi Mas Angga, Dokter?" Anita menatap melas pria di hadapannya. "Kondisi, Pak Wijaya baik-baik saja. Dia hanya stres saja, yang membuatnya kelelahan," kata pria itu, sedikit menjabarkan tentang kondisi Angga Wijaya yang saat ini terbaring tak sadarkan diri di tempat tidurnya.…
ReadmoreChapter 17: 17. SIASAT GEMA DIRGANTARA
Beberapa hari telah berlalu. Kehidupan seolah kembali berjalan normal. Tidak ada drama yang menguras emosi dan tenaga. Semuanya tampak baik-baik saja. Melakukan aktivitas masing-masing, seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Diketahui, setelah kejadian hari itu, Gema tidak pulang ke rumah. Padahal ia begitu…
ReadmoreChapter 18: 18. AWAL KEINGINAN ANGGA WIJAYA
Angga Wijaya pun memutuskan untuk pulang ke rumah. Pikirannya begitu kacau saat ini. Pekerjaan pun ikut terbengkalai. Semua agenda dibatalkan hanya demi mencari sang putra yang saat ini entah di mana rimbanya. "Assalamualaikum, Dek," ucap Angga Wijaya, uruk salam sambil memasuki ruangan.…
ReadmoreChapter 19: 19. MEMINTA NAFKAH BATIN
Pukul 21.00 WIB. Anita keluar dari kamar mandi. Malam ini, dia sengaja menggerai rambutnya yang hitam legam itu. Entah setan mana yang telah merasukinya? Anita mengenakan setelan baju tidur yang cukup ketat, sehingga terlihat lekuk tubuhnya. Memiliki pinggang ramping, dua buah…
ReadmoreChapter 20: 20. PAGI YANG TAK TERDUGA
Pukul 04.45 WIB. Adzan subuh pun sudah berkumandang sejak beberapa menit lalu. Anita dan Angga Wijaya telah bersiap untuk sholat subuh berjamaah. Angga Wijaya sebagai imam dan Anita menjadi makmumnya. Baik Anita maupun Angga Wijaya, sudah sama-sama sepakat untuk melupakan kejadian…
Readmore





