Table of Contents
Lates Chapters
125. Di Atap Mal
"Mama! Lihat!" Suara kecil dan ceria itu memaksa Mentari mengangkat wajah ke depan. Bocah tiga tahun itu menunjukkan sebuah mainan robot di tangannya. Wajahnya sumringah, tampak gembira. Dia berhasil membuat mainan robot dari lego. "Keren, Juni! Merah warnanya, robot kamu pasti hebat!" Mentari…
124. Satu Lagi Keajaiban
Dada Leon semakin menderu, bergejolak, berdetak cepat, dan entah apa lagi yang dia rasa. Tiba di depan ruangan Mentari, Leon makin tidak karuan. Leon cepat masuk ke ruangan itu. Di dalam ada dokter dan dua perawat yang membantu Mentari. Lusia juga ada di…
123. Leon Junior!
Mentari membuka mata. Entah berapa lama dia tertidur. Badan rasanya sakit semua. Mentari menoleh ke sisinya. Leon masih terlelap dengan posisi meringkuk. Sebelah tangan Leon memeluk pinggang Mentari. "Astaga ... udah kejadian, " kata Mentari pelan. Dadanya kembali berdegup kencang. Ingatan Mentari balik…
122. More Than I Can Wish
"Uffhhh!!" Leon meletkakkan pantatnya di kursi pesawat dengan penuh rasa lega. Tinggal beberapa menit pesawat mengudara, Leon dan Mentari akhirnya bisa juga masuk pesawat. Mentari memegang dadanya, masih berusaha mentralkan napasnya yang terengah-engah. "Thank God, ga telat," kata Leon. Matanya memandang ke sekitarnya. …
121. Kejutan Leon
Mentari makin mendekat. Pelan sekali Mentari naik ke kasur dan duduk di samping Leon. Sama sekali Leon tidak bergerak. Dia pasti sangat lelah dan terlelap tanpa tahu lagi apa yang terjadi di sekitarnya. Mentari mencermati detil wajah Leon. Oh, memang sungguh tampan dan…
Comments
Satu pemikiran pada “Ternyata Mencintai Anak Pemilik Mal”
Tinggalkan komentar
You May Also Like
20 Chapters
Chapter 1: 1. Pelarian
"Di mana tuh cewek?! Cepat kejar! Jangan sampai dia lolos!!" Teriakan keras seorang pria berjaket hitam menggelegar di seluruh lorong belakang gedung-gedung tinggi itu. Langit di atas gelap, meskipun tidak sangat gelap. Hari memang sudah semakin malam. "Kita menyebar saja! Lu ke kanan,…
ReadmoreChapter 2: 2. Bersembunyi
Mentari berjalan dengan cepat menjauh dari mobil Leon. Mata Mentari mengawasi ke kiri dan kanan, berhati-hati jika dia melihat pria dengan jaket hitam di sekitarnya. Degupan di dada Mentari belum mereda, pun rasa takut belum benar-benar menyingkir. Mentari melihat ada gang tidak terlalu…
ReadmoreChapter 3: 3. Sofi?
Mentari makin meringkuk dengan tubuh bergetar. Nafasnya terdengar memburu karena ketakutan. Tubuh Mentari pun oleng. Pria itu urung memegang lengan Mentari, karena Mentari terjatuh, meringkuk, dan tidak sadarkan diri. "Astaga! Ini hari apa, sih? Kenapa aku sial begini?" Pria itu kaget dan bingung…
ReadmoreChapter 4: 4. Gudang
Panggilan itu membuat Mentari dengan cepat menoleh. Alman berjalan mendekat. Pria bertubuh agak gemuk dengan rambut ikal itu tersenyum. Ternyata, Alman suka tersenyum. "Lihat ..." Alman menunjukkan kotak yang ada di tangannya. "Ada temanku yang ulang tahun. Dia bagi-bagi makanan. Ini pasti enak."…
ReadmoreChapter 5: 5. Terpana
Mentari oleng dan terjatuh hingga hampir terlentang. Pria itu lumayan tinggi dan gagah. Pantas saja mampu membuat tubuh Mentari yang tipis sampai terjerembab. "Hei! Lu ngapain?!" Pria itu berseru kaget. Mentari dengan cepat menegakkan badan. Masih setengah berjongkok, Mentari melihat pada pria itu.…
ReadmoreChapter 6: 6. Imajinasi dan Strategi
"Om udah terlalu banyak bantu. Ga usah, Om makin repot nanti," kata Mentari. "Aku akan coba kerja apa saja, tukang cuci, jaga toko, apapun. Yang penting bisa makan tiap hari, yang boleh ga usah pakai ijazah." Sebenarnya, justru Mentari takut berurusan dengan polisi.…
ReadmoreChapter 7: 7. Seragam
"Estas listo?" Pria berhidung bangir dengan rambut cepak sedikit botak di bagian atas itu menatap Leon. "Sí, Señor Álvarez. Saya siap bekerja." Leon berdiri tegak membalas tatapan papanya, Alejandro Alvarez. “Oke. Kalau begitu, kamu mulai bekerja.” Alejandro berkata tegas. Tangannya meraih plastik di…
ReadmoreChapter 8: 8. Melamar
Leon menghentikan langkah kakinya dan memperhatikan keributan yang ada di salah satu toko yang dia lalui. "Gimana ceritanye, lu mau ngelamar kerja tapi kagak ada ijazah? Jangan ngadi-ngadi, Neng!" Seorang wanita berpostur besar tampak geram memandang gadis cantik yang ada di depannya.…
ReadmoreChapter 9: 9. Akhirnya!
Mentari merasa tubuhnya kembali gemetar dan napasnya melaju cepat. Begitu dia membuka mata, ternyata Alman yang muncul di depannya. "Om, aku kaget ..." ujarnya dengan debaran di jantung masih belum normal. "Hee ... hee ... sorry ..." Alman membuka pintu lebar, lalu duduk…
ReadmoreChapter 10: 10. Agus
Safira memutar tubuhnya sedikit dan menghadap lurus pada Alman. "Pak Alman, ini antara aku dan Sofi. Aku bisa paham situasinya, tetapi ..." Mata Safira beralih pada Alman. "... aku tetap mau memastikan perusahaan tidak akan sekadar menerima orang hanya karena iba. Perusahaan ini…
ReadmoreChapter 11: 11. Rambut Merah?
Leon memandang Mentari. Perlahan Leon ingat kalau gadis imut dan sedikit kurus itu adalah gadis yang bingung mencari kerja di mal itu. Bagus juga, akhirnya ada pekerjaan buatnya. "Iya, nama gue Agus," ulang pemuda itu yang tak lain adalah Leon. "Hee ... hee…
ReadmoreChapter 12: 12. Berteman?
Refleks tangan Mentari mengusap rambutnya yang tergerai indah dengan warna baru yang membuatnya terlihat lebih cerah dan cantik. "Beda sekali. Hampir gue ga ngenalin lu. Sofi, kan?" tanya Leon sambil kembali mendekat beberapa langkah. Leon dan Mentari berhadapan hanya berjarak satu meter. Wajah…
ReadmoreChapter 13: 13. Dunia Terbalik
Hampir tengah malam, Leon masuk ke halaman rumah besar di ujung gang utama perumahan elite. Motor dia parkir di garasi lalu lewat pintu samping Leon masuk ke dalam. Pintu samping bertemu dengan ruang makan yang luas. "Kamu pulang?" Sapaan itu membuat Leon terkejut.…
ReadmoreChapter 14: 14. Boleh, Mas!
"Bukan apa-apa, Leon. Lu itu orang paling cuek. Kalau ga ada untung buat diri lu, emang lu mau ikut repot?" ujar Baharudin. "Lu sadis ngomong gitu. Lebay. Gue juga punya perasaan. Hati gue bukan dari batu, Bro!" sahut Leon. Baharudin ngakak. Leon terpancing…
ReadmoreChapter 15: 15. Di Bioskop
Mentari cepat-cepat menyiapkan diri agar tidak telat pergi dengan Leon. Tidak sempat mandi lagi. Mentari hanya mencuci muka, menyisir, dan mengenakan bedak tipis di wajahnya. Bahkan berganti baju pun tidak. Memang Mentari juga tidak ada baju keren buat pergi bersama lelaki tampan. Hanya…
ReadmoreChapter 16: 16. Agus Misterius
Leon tersenyum kecut. Dia berpikir bagaimana caranya Mentari akan percaya kalau buat beli makan Leon masih punya uang. Setidaknya sebelum Mentari pulang, gadis itu sudah lebih tenang. "Ada yang murah kok, makanannya. Aku lapar, Sof. Kerjaanku kan lumayan berat. Makan popcorn doang ga…
ReadmoreChapter 17: 17. Hadiah Ultah
Dengan cepat Mentari harus mencari alasan agar Leon tidak memaksa dia memberitahu tinggal di mana. "Ga usah, Mas. Rumahku ga jauh. Jalan aja bisa. Mas Agus duluan ga apa-apa." Mentari menampik cepat. "Yakin? Gratis, ga pakai uang ojek." Leon berdiri. "Beneran. Paling…
ReadmoreChapter 18: 18. Tatapan Curiga
"Bukan. Ini pesanan, sih." Leon tidak mau mengakui dengan jujur untuk apa kado itu. Dia takut nanti Mentari bertanya lebih jauh dan Leon keceplosan bicara soal keluarganya. "Mas Agus kerja cari barang buat orang mau kasih kado?" Mentari mencoba meluruskan apa yang…
ReadmoreChapter 19: 19. Catatan Mentari
"Langsung saja ya, ga banyak waktu. Takut hadiahnya ga sampai on time pada orangnya." Leon tidak mau meladeni tatapan penuh tanya dari wajah Mentari. Lebih baik tujuan dia meminta Mentari membantunya segera diwujudkan. "Iya, Mas. Jadi bisa kasih info?" Mentari pun fokus…
ReadmoreChapter 20: 20. Melawan Pengawas!
Leon tertawa mendengar kata-kata Lusia. Ya, Leon bukan tipe pria yang bisa bermanis-manis pada wanita. Waktu masih punya Hera, dia berusaha melakukan itu, tapi luka yang dalam mendera hatinya, membuat Leon memilih tak peduli dan dingin pada wanita. Bahkan pada keluarganya sendiri. Lusia…
Readmore






Terima kasih buat teman-teman readers yang mampir. Moga kisah ini jadi inspirasi dalam menjalani hari-hari yang mungkin ada saja kejutan tak terduga. Semangat semua.