Table of Contents
- Chapter 1: BAB 1 : Pulau Iblis Kematian
- Chapter 2: BAB 2 : Ancaman Musuh Berkekuatan Tinggi
- Chapter 3: BAB 3 : Keberadaan Panah Sakti Gandiwa
- Chapter 4: BAB 4 : Tenang Seperti Telaga
- Chapter 5: BAB 5 : Nyawa Dibayar Dengan Nyawa
- Chapter 6: BAB 6 : Perserikatan Pembela Kebenaran
- Chapter 7: BAB 7 : Pendekar Dewa Kematian
- Chapter 8: BAB 8 : Dewi Sungai Maratungga
- Chapter 9: BAB 9 : Setan Gembel
- Chapter 10: BAB 10 : Pertarungan Hidup Dan Mati
Lates Chapters
BAB 10 : Pertarungan Hidup Dan Mati
“Berhenti di sana, Saka Lintang!” mendengar seseorang menyebut namanya, Saka Lintang pun membalikkan badan. Kali ini dia mematung, melihat paras pemuda di hadapannya saat ini. Dia memang tidak tersenyum, tapi seperti sihir, Saka Lintang langsung melupakan sejenak tujuannya di tempat itu. “Benar kan,…
BAB 9 : Setan Gembel
“Akan ada drama apalagi hari ini?” tanya Tan Jayastu seraya membawa sepotong roti di tangannya, ia mulai memantau lalu-lalang orang-orang dari atas atap rumah yang entah milik siapa. Sampai suara berderit sebuah gesekan benda keras membelah jalanan terdengar. Sreekkk! Sreekkk! Terus seperti itu…
BAB 8 : Dewi Sungai Maratungga
Selama hidup, kau akan menemui orang-orang yang akan mengambil kepemimpinan di setiap kawasan tertentu. Entah itu atas gelar yang diembankan padanya, atau hanya sekadar terkenal sebagai yang paling tangguh. Dan kali ini pada kawasan sungai besar Maratungga ada perompak yang di pimpin oleh…
BAB 7 : Pendekar Dewa Kematian
Sebuah Padang rumput yang menjadi bagian perbatasan antara dua kota hari ini terlihat ramai. Di sisi kanan, para murid Patih Giling Wesi dengan jumlah besarnya tengah membangun sebuah parit. Beberapa sedang berada di dalam tenda untuk mendiskusikan formasi serangan mereka. Perguruan Matahari adalah…
BAB 6 : Perserikatan Pembela Kebenaran
“Bagaimana, sudah siap untuk menemui ajalmu?” suara tersebut terasa melewati rungu sang Patih melalui bantuan angin, dan beliau pun mendadak sadar dari pingsannya. “Apa itu tadi!? Siapa kau, tolong tunjukkan dirimu dan katakan masalah apa yang terjadi di antara kita!?” Seluruh orang yang…
Comments
10 Chapters
Chapter 1: BAB 1 : Pulau Iblis Kematian
“Aku harus lari, aku tidak ingin mati!” seorang anak laki-laki berlari ke arah hutan, terus-menerus berlari. Tak dihiraukannya kedua kaki-kaki yang bahkan tertusuk duri, tergores di setiap sisi. Langkahnya semakin dipercepat, semakin jauh ke dalam hutan, semakin gelap dan semakin ia tak tahu…
ReadmoreChapter 2: BAB 2 : Ancaman Musuh Berkekuatan Tinggi
Beberapa saat setelah Ambara jatuh tidak sadarkan diri, hujan yang begitu deras turun membasahi tanah dan menciptakan genangan air. Bersamaan dengan itu terdengar derap langkah kaki yang menginjak genangan tersebut dan menghasilkan bunyi cipratan air. “Sepertinya takdir ingin mengampuni dirimu,” gumam sosok itu…
ReadmoreChapter 3: BAB 3 : Keberadaan Panah Sakti Gandiwa
Pagi itu keadaan seperti biasanya terjadi di ibu kota. Berbeda dengan kota Segara Diru yang terletak dekat dengan wilayah laut, maka ibu kota berada jauh di Utara. Posisinya pun dekat dengan kerajaan Jagadtaru. Sekaligus tempat tinggal pemimpin agung dunia persilatan. Sejak turun-temurun, teknik…
ReadmoreChapter 4: BAB 4 : Tenang Seperti Telaga
Suku Madasura, adalah suku yang mengabdikan hidup mereka pada Dewi bulan, dan gemar memberikan sesaji pada aliran sungai besar Suratama. Sura sendiri berarti Hiu, tapi apa yang mereka pintai agar memberikan kesejahteraan pada desa dan terhindar dari wabah adalah seekor buaya raksasa berwarna…
ReadmoreChapter 5: BAB 5 : Nyawa Dibayar Dengan Nyawa
“Se-sebenarnya kau ini apa! Kau siapa!?” Lagi-lagi sang pemuda menyeringai. “Ajal kalian? Mungkin? Ahahaha!” dengan teknik meringankan tubuhnya sang pemuda tiba-tiba saja sudah berganti tempat dan duduk bersila di atas sebuah meja yang masih utuh. Ia mulai menutup matanya. “Aaargghh! Aku tidak peduli…
ReadmoreChapter 6: BAB 6 : Perserikatan Pembela Kebenaran
“Bagaimana, sudah siap untuk menemui ajalmu?” suara tersebut terasa melewati rungu sang Patih melalui bantuan angin, dan beliau pun mendadak sadar dari pingsannya. “Apa itu tadi!? Siapa kau, tolong tunjukkan dirimu dan katakan masalah apa yang terjadi di antara kita!?” Seluruh orang yang…
ReadmoreChapter 7: BAB 7 : Pendekar Dewa Kematian
Sebuah Padang rumput yang menjadi bagian perbatasan antara dua kota hari ini terlihat ramai. Di sisi kanan, para murid Patih Giling Wesi dengan jumlah besarnya tengah membangun sebuah parit. Beberapa sedang berada di dalam tenda untuk mendiskusikan formasi serangan mereka. Perguruan Matahari adalah…
ReadmoreChapter 8: BAB 8 : Dewi Sungai Maratungga
Selama hidup, kau akan menemui orang-orang yang akan mengambil kepemimpinan di setiap kawasan tertentu. Entah itu atas gelar yang diembankan padanya, atau hanya sekadar terkenal sebagai yang paling tangguh. Dan kali ini pada kawasan sungai besar Maratungga ada perompak yang di pimpin oleh…
ReadmoreChapter 9: BAB 9 : Setan Gembel
“Akan ada drama apalagi hari ini?” tanya Tan Jayastu seraya membawa sepotong roti di tangannya, ia mulai memantau lalu-lalang orang-orang dari atas atap rumah yang entah milik siapa. Sampai suara berderit sebuah gesekan benda keras membelah jalanan terdengar. Sreekkk! Sreekkk! Terus seperti itu…
ReadmoreChapter 10: BAB 10 : Pertarungan Hidup Dan Mati
“Berhenti di sana, Saka Lintang!” mendengar seseorang menyebut namanya, Saka Lintang pun membalikkan badan. Kali ini dia mematung, melihat paras pemuda di hadapannya saat ini. Dia memang tidak tersenyum, tapi seperti sihir, Saka Lintang langsung melupakan sejenak tujuannya di tempat itu. “Benar kan,…
Readmore





