Table of Contents
Lates Chapters
Dilemma
Arkan dan aku saling bertatapan, bingung menanggapi berita yang sungguh membuat kami shock. "[Papa...bercanda, kan?]" Ucapku masih tak percaya "[Jika kamu berkenan, silahkan datang ke Paris, aku tunggu.]" "[Papa...]" tiba-tiba Arkan meraih ponselku "[Arkan, kamu disitu?] "[Bagaimana keadaan Al sekarang?] "[Seperti yang…
Pengakuan
"Aku sudah persiapkan segala keperluan kamu dan Anami untuk pulang." "Terima kasih, Arkan. Entah mengapa, justru kamu yang ngurusin kami, bukan Ayah kandungnya." Ucapku sambil menengadah ke langit-langit kamar RS. Bayi Anami, sudah semakin stabil kondisinya. Kelahiran prematur, membuat kami harus sabar menunggu…
Kembali
Sakit hati ini diperlakukan seperti itu oleh suami. Aku menghubungi asisten untuk segera memesan tiket pulang. Setelahnya, aku menelpon pengacara keluarga untuk konsultasi terkait masalah ini, mereka masih memintaku untuk mediasi dengan Al. Setelah kembali ke Jakarta, aku segera menuju rumah untuk menemui…
Mendidih
Mendadak suasana berubah menegangkan. Rumah sakit Saint Laurent menjadi tujuanku, karena di RS ini sudah ada rekam medisku saat kontrol bulanan. Serta, rasa sakit di perut semakin terasa. Dokter dan paramedis lainnya berdatangan padaku yang sedang merintih. "Apakah Anda datang sendirian." "Tidak, diantar…
Mencair
"Minggir, aku mau bertemu Laira." Ucap wanita itu dengan menerobos asistenku "Maaf Nona, anda tidak sopan sekali." "Biarkan dia masuk." Ucapku dengan lantang. Bukannya duduk dan berbicara, Nadya datang terisak dan langsung merebahkan diri dengan posisi tengkurap di ranjang. Aku memberi kode asistenku…
Comments
You May Also Like
20 Chapters
Chapter 1: Mimpi
Hidup ini lucu. Kadang aku merasa sedang berdiri diatas sepatu usang, dimana bagian sol sepatunya atau bagian lain siap terlepas kapan saja. Seperti sepatu boots hitam didepanku adalah bukti itu. Kulitnya mulai retak dibagian tumit, warnanya pudar, namun rtap menjadi favoritku. Entah, mengapa…
ReadmoreChapter 2: Secercah
Aku masuk ke kamar dan mendapati ibu sedang merintih dibawah kasur. “Ibu baik-baik saja,” tanyaku sambil kubantu bopong ke atas kasur kembali. Air mataku hampir tumpah, tapi aku menahannya. Aku harus kuat, untuk mimpiku, untuk ibuku. Malam itu, aku mengerjakan desainku…
ReadmoreChapter 3: Shocking
Seisi rumah menjadi hening sejenak mendengar informasi pendaftaran kompetisi itu dari Nadya. Tak terasa butiran bening mengalir dikedua pipi ini. Lalu menarik nafas dalam untuk membantu menetralkan suasana. "Tenang La, pasti ada jalan, pendaftaran maksimal minggu depan, aku yakin kamu bisa." Ucapnya menyemangatiku,…
ReadmoreChapter 4: Pilihan
Sinar matahari menerobos tirai rumah sakit, membuat mata ini terkesiap. Rupanya aku ketiduran, duduk di kursi kecil disamping bed ibu dengan kepala sedikit menyandar ke dinding. kulihat ibu yang masih terlelap, wajahnya masih tampak lelah, tapi setidaknya napas ibu lebih teratur dibanding kemarin.…
ReadmoreChapter 5: Gamang
Dari kafe itu, aku langsung menuju lokasi photoshoot. Disana juga janjian dengan Pak Surya untuk mengantar hasil sample beberapa sepatu boots buatannya dari desainku. Arkan sudah menunggu di sebuah studio kecil yang masih dipinggiran kota. Model yang ia pilih adalah seorang gafis muda…
ReadmoreChapter 6: Jujur
Aku kembali ke kamar rawat ibu, tak sadar beliau sedang memperhatikan anak gadisnya tersenyum sendiri saat memasuk kamar. "Sepertinya dia orang baik." Ibu melihatku yang merona namun kutepis "Siapa, Bu? Arkan? Ehm...aku baru satu minggu lalu mengenalnya, kami hanya teman." Ucapku dengan nada…
ReadmoreChapter 7: POV Arkan
Aku sering bertanya, apa dia merasakan getaran sama padaku?, ada sesuatu dalam diri Laira yang membuatku ingin mengejar wanita itu. Bukan hanya tentang mimpi-mimpinya yang tinggi, atau senyumnya yang tulus. Tapi, cara dia melihat dunia dengan keyakinan, dimana aku sendiri sulit memahami. Saat…
ReadmoreChapter 8: Hari itu
Aku menatap langit kamar. Sebuah kebiasaan yang sulit kuhindari, melamun membayangkan betapa senang memakai boots berjalan diatas salju, atau hanya jalan santai di pinggir kota Venice, atau Paris. Entah kapan akan terwujud. Tapi, aku harus yakin bisa, karena itu mudah bagi Allah untuk…
ReadmoreChapter 9: It’s time
Tetap bergerak adalah salah satu solusi, jika ingin masalah kita segera terpecahkan. Seperti yang kulakukan saat ini, di sebuah taman komplek perumahan tua ini, aku mencari ketenangan sambil membuat desain baru untuk semifinal nanti, sekaligus sebelum jam kerja. Tapi, ketenangan itu tak berlangsung…
ReadmoreChapter 10: Ternyata
Suasana mendadak kaku, hening sekejap. Aku terpaku begitu juga Al. Tapi, ekspresi wajah mereka berbeda, aku melihat tatapan tajam di mata mereka, seolah ada sesuatu yang tak terucap. "Apa kamu sedang ada pemotretan disana?" Tunjuk-ku bertanya pada Arkan, mencairkan suasana. "Ya, tak sengaja…
ReadmoreChapter 11: Terbang
"Apa aku ketinggalan sesuatu?" Mataku tertuju pada ibu, lalu Alvaro, sambil menghidangkan teh untuknya. Kedua orang ini tampak menyiratkan satu hal yang tak kumengerti. "Tidak ada apa-apa Laira, ibu hanya terharu, kamu bisa diterima di Perusahaan, Nak Alvaro ini." Ujar Ibu, dimana tentu…
ReadmoreChapter 12: Milan
Aku melangkah keluar dari Bandara Malpensa, Milan. Sejenak ingin mencari tahu keberadaan sosok tadi, namun, pramugari segera menyuruhku untuk bergegas turun, bergantian dengan penumpang lain. Setelah hampir delapan belas jam perjalanan, akhirnya pijakan pertamaku untuk keliling dunia jatuh di kota Milan, Italia. Udara…
ReadmoreChapter 13: Arkan View
Baru satu hari, aku menginjakan kaki di kota ini, ingin segera mengunjungi tempat-tempat bersejarah. Kuputuskan pagi ini melihat Duomo di Milano. Sebuah icon bersejarah kota Milan. Mata ini terpana melihat arsitektur yang terukir indah dengan lebih dari seratus menara. Kamera menggantung di leherku,…
ReadmoreChapter 14: Titik terang
Aku berdiri di atas panggung, menatap barisan juri dan puluhan penonton yang memenuhi aula kompetisi. Panitia juga mengadakan live streaming di babak final. Tangan gemetar saat mikrofon kugenggam erat. Hatiku masih terpukul oleh tuduhan plagiasi yang menodai perjalanan ini. Namun, di tengah ketakutan…
ReadmoreChapter 15: Bimbang
Milan tampak indah di malam hari, tapi pikiranku tidak bisa fokus pada keindahan itu. Aku tahu keputusan apa yang harus diambil, tapi entah kenapa hatiku enggan memilih. "Senang sekali bisa ke Paris Fashion Week." Ucap Umma memecah keheninganku "Sayang aku belum tentu bisa…
ReadmoreChapter 16: Overthinking
Aku duduk di samping ranjang ibu di kamar rumah sakit. Operasi kaki yang baru saja dijalaninya telah selesai, namun perjalanan pemulihan masih panjang. Wajahnya terlihat lebih tenang, meski tubuhnya masih lemah. Sementara aku, masih tak percaya dengan berita headline yang baru saja kubaca.…
ReadmoreChapter 17: Pertemuan
Kunyalakan Smart TV, dimana masih membahas topik seputar banjir besar sebagai headline mereka. Situasi ini terakhir melanda Paris pada empat tahun lalu. Saat itu, aku juga tak sengaja berada di kota romantis ini, apa aku memang pembawa sial? , gumamku. "Sudah siap," suara Zia…
ReadmoreChapter 18: Mencari tahu
Diri ini terus berusaha menghubungi Arkan. Namun, dia seolah menghilang tanpa kabar, baru mengetahui dari salah satu berita internasional bahwa seseorang yang mirip Arkan sedang mendokumentasikan banjir besar di Paris. Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri dengan berpikir positif. "Dia selalu seperti…
ReadmoreChapter 19: Paris
[Selamat pagi, dengan travel Al Baiti, bisa dibantu?] [Ya mbak, saya Laira, ingin menanyakan paket Umroh] [Baik, rencana berangkat kapan Bu Laira?] [Insyaallah satu atau dua bulan lagi bersama Ibu] Suara customer service menjelaskan langkah demi langkah yang harus aku siapkan untuk kejutan…
ReadmoreChapter 20: PFW
Paris Fashion Week, sebuah acara bergengsi dunia, dimana aku menulisnya sebagai sebuah salah satu wishlist. Tak terbayangkan akan hadir disini, dengan cara memenangkan sebuah lomba. Paris Fashion Week berlangsung kurang lebih satu minggu, dengan menampilkan koleksi Musim gugur juga musim dingin dari berbagai…
Readmore





