cinta yang terlambat tumbuh

By: Akilah nur sabrina razak
30 Readers 10 Chapters 9.9

20 HARI MENCARI MAAF

Di awal kelas satu SMA, Githa tidak berniat memulai apa pun. MPLS berlalu seperti biasa, sampai dua minggu kemudian ia mengenal Rio, seorang atlet renang yang dingin dan selalu menjaga jarak.githa sempat dekat dengan rio,bahkan sempat menjalin hubungan dengan nya. Namun pertemuan yang seharusnya berakhir indah…
Read Share

Table of Contents

Lates Chapters

selesai tanpa kembali

Hari itu aku pergi ke sekolah dengan tegas dan penuh percaya diri menuju kelas Rio. Bukannya aku melihat Rio bersama teman-temannya, aku justru melihatnya sedang berbincang manis dengan Sasha di bangkunya. Kepercayaan diriku yang sejak awal kubangun untuk meminta maaf langsung hancur lebur…

20 hari untuk menyusun kata maaf

Hari Senin pun tiba.Hari itu aku sudah duduk di kelas dua SMA semester dua.Lama-kelamaan aku semakin dekat dengan Aris.Namun,entah mengapa,aku masih saja memandang Aris sama seperti dulu aku memandang Rio. Rio justru semakin sering muncul di pikiranku saat aku sedang sedih atau bahkan…

hati kecil yang masih menyimpan memori yang besar.

Hari itu,setelah bel pulang berbunyi,bukan Rio lagi yang menyapaku dengan senyum palsunya,melainkan Buna.Ia berlari dari belakangku dan menepuk pundakku sambil mengajakku pulang bersama serta berjalan-jalan dengannya.Tentu saja aku tidak menolak ajakan Buna.Karena itu,aku memintanya untuk pergi ke rumahku terlebih dahulu.Aku ingin mengenalkannya kepada…

Hal buruk pasti datang dengan hal baik

Beberapa hari berlalu. Aku mulai merasakan hal yang aneh pada Sasha. Ia sudah jarang menggangguku dan bahkan sedikit menghindar dariku. Aku bingung, mengapa ia tiba-tiba berubah? Namun, selama ia masih mengajakku berbicara dan tertawa, aku tetap menganggapnya sahabatku. Keanehan Sasha yang perlahan menjauh…

keraguan yang tak bisa terucap

Di sisi lain, aku selalu merasa risih kepada Rio. Bahkan tanpa alasan, aku selalu ingin memberanikan diri untuk menjauhi Rio secara perlahan. Namun di satu sisi, ketika aku bersamanya, ada rasa aman dan hal-hal kecil yang membuat semuanya terasa begitu ringan. Pagi itu,…

Comments

Tinggalkan komentar

You May Also Like

Aryati Mudjiono
eli.budianto
dwi.fitriani
10 Chapters

Chapter 1: awal mula bertemu dan mulai tumbuh persaan yang mengganjal

Oleh: Akilah nur sabrina razak
Namaku Githa, aku adalah orang yang kurang suka bergaul dengan banyak orang. Tetapi, aku juga bisa jadi sangat aktif ketika bersama orang yang membuat ku nyaman. Aku seorang siswi dari sekolah ‘Membangun Harapan’ dan sekarang aku sudah masuk kelas 3 SMA, lebih tepat…
Readmore

Chapter 2: pertanyaan yang tertahan

Oleh: Akilah nur sabrina razak
Minggu-minggu berlalu, aku masih saja memikirkan hal yang dikatakan oleh Sasha. Tapi di sisi lain, aku masih kesal dengan kejadian di lomba itu, dia sudah membuatku malu di atas panggung.   Dan akhir-akhir ini aku sudah jarang melihatnya di lorong. Biasanya jika jam…
Readmore

Chapter 3: kisah terindah seumur hidup

Oleh: Akilah nur sabrina razak
“Apa yang ingin kau katakan lagi kepadaku? Kau ingin aku pergi? Aku akan segera pulang,” kataku dengan nada ketus dan membentak. Dia lalu berkata dengan nada memelas, “Aku mohon, aku hanya ingin disuapi olehmu. Aku minta maaf.” Aku tak sangka dia bisa memohon…
Readmore

Chapter 4: Diantara tawa ada rasa yang asing

Oleh: Akilah nur sabrina razak
Setelah beberapa hari aku ditembak oleh Rio, aku jadi semakin sering bermain ke rumahnya. Bahkan, aku sudah disebut sebagai menantu oleh mamanya. Namun, setelah sekian lama aku sering datang ke rumah itu, aku sama sekali tak pernah melihat wajah maupun sosok ayah dari…
Readmore

Chapter 5: Perasaan asing yang tumbuh secepat tumor

Oleh: Akilah nur sabrina razak
Lomba itu akhirnya selesai, dan menurutku lomba ini bukan hanya sekadar lomba biasa. Aku mewakili sekolahku, dan jika aku kalah, secara otomatis aku juga bisa menghilangkan semua harapan guru-guru dan murid-murid di sekolahku. Beban itu terasa berat di pundakku, seolah seluruh sekolah menggantungkan…
Readmore

Chapter 6: keraguan yang tak bisa terucap

Oleh: Akilah nur sabrina razak
Di sisi lain, aku selalu merasa risih kepada Rio. Bahkan tanpa alasan, aku selalu ingin memberanikan diri untuk menjauhi Rio secara perlahan. Namun di satu sisi, ketika aku bersamanya, ada rasa aman dan hal-hal kecil yang membuat semuanya terasa begitu ringan. Pagi itu,…
Readmore

Chapter 7: Hal buruk pasti datang dengan hal baik

Oleh: Akilah nur sabrina razak
Beberapa hari berlalu. Aku mulai merasakan hal yang aneh pada Sasha. Ia sudah jarang menggangguku dan bahkan sedikit menghindar dariku. Aku bingung, mengapa ia tiba-tiba berubah? Namun, selama ia masih mengajakku berbicara dan tertawa, aku tetap menganggapnya sahabatku. Keanehan Sasha yang perlahan menjauh…
Readmore

Chapter 8: hati kecil yang masih menyimpan memori yang besar.

Oleh: Akilah nur sabrina razak
Hari itu,setelah bel pulang berbunyi,bukan Rio lagi yang menyapaku dengan senyum palsunya,melainkan Buna.Ia berlari dari belakangku dan menepuk pundakku sambil mengajakku pulang bersama serta berjalan-jalan dengannya.Tentu saja aku tidak menolak ajakan Buna.Karena itu,aku memintanya untuk pergi ke rumahku terlebih dahulu.Aku ingin mengenalkannya kepada…
Readmore

Chapter 9: 20 hari untuk menyusun kata maaf

Oleh: Akilah nur sabrina razak
Hari Senin pun tiba.Hari itu aku sudah duduk di kelas dua SMA semester dua.Lama-kelamaan aku semakin dekat dengan Aris.Namun,entah mengapa,aku masih saja memandang Aris sama seperti dulu aku memandang Rio. Rio justru semakin sering muncul di pikiranku saat aku sedang sedih atau bahkan…
Readmore

Chapter 10: selesai tanpa kembali

Oleh: Akilah nur sabrina razak
Hari itu aku pergi ke sekolah dengan tegas dan penuh percaya diri menuju kelas Rio. Bukannya aku melihat Rio bersama teman-temannya, aku justru melihatnya sedang berbincang manis dengan Sasha di bangkunya. Kepercayaan diriku yang sejak awal kubangun untuk meminta maaf langsung hancur lebur…
Readmore
error: Content is protected !!