Table of Contents
- Chapter 1: awal mula bertemu dan mulai tumbuh persaan yang mengganjal
- Chapter 2: pertanyaan yang tertahan
- Chapter 3: kisah terindah seumur hidup
- Chapter 4: Diantara tawa ada rasa yang asing
- Chapter 5: Perasaan asing yang tumbuh secepat tumor
- Chapter 6: keraguan yang tak bisa terucap
- Chapter 7: Hal buruk pasti datang dengan hal baik
- Chapter 8: hati kecil yang masih menyimpan memori yang besar.
- Chapter 9: 20 hari untuk menyusun kata maaf
- Chapter 10: selesai tanpa kembali
Lates Chapters
selesai tanpa kembali
Hari itu aku pergi ke sekolah dengan tegas dan penuh percaya diri menuju kelas Rio. Bukannya aku melihat Rio bersama teman-temannya, aku justru melihatnya sedang berbincang manis dengan Sasha di bangkunya. Kepercayaan diriku yang sejak awal kubangun untuk meminta maaf langsung hancur lebur…
20 hari untuk menyusun kata maaf
Hari Senin pun tiba.Hari itu aku sudah duduk di kelas dua SMA semester dua.Lama-kelamaan aku semakin dekat dengan Aris.Namun,entah mengapa,aku masih saja memandang Aris sama seperti dulu aku memandang Rio. Rio justru semakin sering muncul di pikiranku saat aku sedang sedih atau bahkan…
hati kecil yang masih menyimpan memori yang besar.
Hari itu,setelah bel pulang berbunyi,bukan Rio lagi yang menyapaku dengan senyum palsunya,melainkan Buna.Ia berlari dari belakangku dan menepuk pundakku sambil mengajakku pulang bersama serta berjalan-jalan dengannya.Tentu saja aku tidak menolak ajakan Buna.Karena itu,aku memintanya untuk pergi ke rumahku terlebih dahulu.Aku ingin mengenalkannya kepada…
Hal buruk pasti datang dengan hal baik
Beberapa hari berlalu. Aku mulai merasakan hal yang aneh pada Sasha. Ia sudah jarang menggangguku dan bahkan sedikit menghindar dariku. Aku bingung, mengapa ia tiba-tiba berubah? Namun, selama ia masih mengajakku berbicara dan tertawa, aku tetap menganggapnya sahabatku. Keanehan Sasha yang perlahan menjauh…
keraguan yang tak bisa terucap
Di sisi lain, aku selalu merasa risih kepada Rio. Bahkan tanpa alasan, aku selalu ingin memberanikan diri untuk menjauhi Rio secara perlahan. Namun di satu sisi, ketika aku bersamanya, ada rasa aman dan hal-hal kecil yang membuat semuanya terasa begitu ringan. Pagi itu,…
Comments
10 Chapters
Chapter 1: awal mula bertemu dan mulai tumbuh persaan yang mengganjal
Namaku Githa, aku adalah orang yang kurang suka bergaul dengan banyak orang. Tetapi, aku juga bisa jadi sangat aktif ketika bersama orang yang membuat ku nyaman. Aku seorang siswi dari sekolah ‘Membangun Harapan’ dan sekarang aku sudah masuk kelas 3 SMA, lebih tepat…
ReadmoreChapter 2: pertanyaan yang tertahan
Minggu-minggu berlalu, aku masih saja memikirkan hal yang dikatakan oleh Sasha. Tapi di sisi lain, aku masih kesal dengan kejadian di lomba itu, dia sudah membuatku malu di atas panggung. Dan akhir-akhir ini aku sudah jarang melihatnya di lorong. Biasanya jika jam…
ReadmoreChapter 3: kisah terindah seumur hidup
“Apa yang ingin kau katakan lagi kepadaku? Kau ingin aku pergi? Aku akan segera pulang,” kataku dengan nada ketus dan membentak. Dia lalu berkata dengan nada memelas, “Aku mohon, aku hanya ingin disuapi olehmu. Aku minta maaf.” Aku tak sangka dia bisa memohon…
ReadmoreChapter 4: Diantara tawa ada rasa yang asing
Setelah beberapa hari aku ditembak oleh Rio, aku jadi semakin sering bermain ke rumahnya. Bahkan, aku sudah disebut sebagai menantu oleh mamanya. Namun, setelah sekian lama aku sering datang ke rumah itu, aku sama sekali tak pernah melihat wajah maupun sosok ayah dari…
ReadmoreChapter 5: Perasaan asing yang tumbuh secepat tumor
Lomba itu akhirnya selesai, dan menurutku lomba ini bukan hanya sekadar lomba biasa. Aku mewakili sekolahku, dan jika aku kalah, secara otomatis aku juga bisa menghilangkan semua harapan guru-guru dan murid-murid di sekolahku. Beban itu terasa berat di pundakku, seolah seluruh sekolah menggantungkan…
ReadmoreChapter 6: keraguan yang tak bisa terucap
Di sisi lain, aku selalu merasa risih kepada Rio. Bahkan tanpa alasan, aku selalu ingin memberanikan diri untuk menjauhi Rio secara perlahan. Namun di satu sisi, ketika aku bersamanya, ada rasa aman dan hal-hal kecil yang membuat semuanya terasa begitu ringan. Pagi itu,…
ReadmoreChapter 7: Hal buruk pasti datang dengan hal baik
Beberapa hari berlalu. Aku mulai merasakan hal yang aneh pada Sasha. Ia sudah jarang menggangguku dan bahkan sedikit menghindar dariku. Aku bingung, mengapa ia tiba-tiba berubah? Namun, selama ia masih mengajakku berbicara dan tertawa, aku tetap menganggapnya sahabatku. Keanehan Sasha yang perlahan menjauh…
ReadmoreChapter 8: hati kecil yang masih menyimpan memori yang besar.
Hari itu,setelah bel pulang berbunyi,bukan Rio lagi yang menyapaku dengan senyum palsunya,melainkan Buna.Ia berlari dari belakangku dan menepuk pundakku sambil mengajakku pulang bersama serta berjalan-jalan dengannya.Tentu saja aku tidak menolak ajakan Buna.Karena itu,aku memintanya untuk pergi ke rumahku terlebih dahulu.Aku ingin mengenalkannya kepada…
ReadmoreChapter 9: 20 hari untuk menyusun kata maaf
Hari Senin pun tiba.Hari itu aku sudah duduk di kelas dua SMA semester dua.Lama-kelamaan aku semakin dekat dengan Aris.Namun,entah mengapa,aku masih saja memandang Aris sama seperti dulu aku memandang Rio. Rio justru semakin sering muncul di pikiranku saat aku sedang sedih atau bahkan…
ReadmoreChapter 10: selesai tanpa kembali
Hari itu aku pergi ke sekolah dengan tegas dan penuh percaya diri menuju kelas Rio. Bukannya aku melihat Rio bersama teman-temannya, aku justru melihatnya sedang berbincang manis dengan Sasha di bangkunya. Kepercayaan diriku yang sejak awal kubangun untuk meminta maaf langsung hancur lebur…
Readmore





