Table of Contents
Lates Chapters
Ingatlah Hari Ini
“Berawal dari kebencian, perlahan hati itu luluh dengan sendirinya. Ketika pertama kali melihatnya bersikap dingin kepadaku, dikarenakan kesalahan masa lalu. Aku pernah mengabaikannya, perlahan aku membopongnya saat tubuhnya hampir sampai di sebuah aspal. Tanpa sengaja aku menatap kedua pupil matanya, dan kulihat ada…
Melamarmu di Hari Ulang Tahunku
Malam itu menjadi saksi kebahagiaan mereka di mana mereka sedang menyaksikan percikan kembang api yang menghiasi langit nan kelam. Gadis itu tersenyum bahagia saat menyaksikan momen tersebut, di temani semilir angin yang berhembus meniup anak rambutnya. Gadis itu tampak cantik dengan gaun yang…
Malam Pertunangan
Archand menggandeng tangan Florensia dengan penuh kehangatan, dia menuntum kekasihnya hingga sampai ke atas pentas. Saat itu Arhcanda mempersembahkan sebuah lagu untuknya. Hal tersebut membuat kekasihnya sangat bahagia, gadis itu menikmati alunan lagu dengan irama yang mengalun merdu. Dia mengikuti lirik lagu yang…
Merayakan Ulang Tahun di Cafe
Malam telah tiba, mereka sedang asik mendengarkan alunan musik yang mengalun merdu di telinga, di tambah lagi dengan iringan suara dari seorang vokalis. Diandra menikmati setiap alunan musik yang terdengar merdu di telinganya menambah kesan romantis saat sedang berduaan dengan suaminya. Mereka masih…
Kejutan Hari Ulang Tahun
Saat itu jam menunjukkan pukul sembilan pagi, di mana kedua pasangan pengantin tesebut masih betah di dalam kamar. Diandra memandang wajah suaminya dan membalas lembut wajahnya. Diandra mengagumi ketampanan suaminya itu, wanita itu memeluk erat suaminya untuk mendapatkan kehangatan setelah pagi datang membawa…
Comments
20 Chapters
Chapter 1: Prolog
Revan mengejar Diandra yang lari darinya. Namun, Diandra terus saja bergelut dengan kesedihannya itu. Perasaannya seketika hancur saat mengetahui latar belakang Revan yang nyatanya adalah seorang CEO di suatu perusahaan milik pak Surya yang merupakan sahabat dari papa kandungnya. Sejak lama mereka saling…
ReadmoreChapter 2: Bertemu Klien
Diandra meninggalkan Revan sendirian di dalam mobil, dia segera membawa berkas-berkas yang telah di persiapkan untuk meeting. Diandra melangkah dengan anggun membuat Revan tak bisa berpaling dan memaksakan diri untuk menghampirinya di tempat meeting. Revan melangkah pelan dan berusaha melawan rasa sakit di…
ReadmoreChapter 3: Ceoku Sedang Sakit
Diandra histeris, tiba-tiba dia memeluk pria yang berjalan bersamanya itu. Seketika Aditya terkejut saat melihat respon bahagia dari gadis cantik itu. Namun, rasanya nyaman saat di peluk oleh gadis cantik itu. Rasanya enggan untuk melepaskan pelukan darinya. Seketika Diandra tersadar dan segeramelepaskan pelukannya,…
ReadmoreChapter 4: Menggantikan Tugas Ceo
Diandra bergegas masuk ke ruangan pribadi Revan. Seketika Diandra kaget karena seorang wanita paruh baya yang duduk di kursi tamu yang tak jauh letaknya dari meja kerja Revan. Wanita itu menatap tajam kepada Diandra, seketika gadis itu hanya menunduk hormat kepadanya. Meski Diandra…
ReadmoreChapter 5: Masih Adakah Cinta
Archand mengernyitkan kedua alisnya dan mencoba mencari arti dari pernyataan gadis yang berada di depannya itu. Archand hanya menunggu sampai gadis itu membuka pertanyaan untuknya. Tak lama kemudian gadis itu melontarkan pertanyaan kepadanya dan Archand pun di buat kaget dengan pertanyaannya itu. “Sebenarnya…
ReadmoreChapter 6: Waktunya Cinta
Padahal Diandra tak bermaksud untuk menyakiti adik kandungnya. Sejenak langkah Diandra pun terhenti, gadis itu mencoba menghapus air matanya yang tiba-tiba saja mengalir di sudut matanya. Archand menghentikan langkahnya dan menoleh kebelakang untuk memastikan keberadaan gadis itu, apakah Diandra baik-baik saja? batinnya berkata.…
ReadmoreChapter 7: Maafkan Aku
Tiba-tiba cacing di perut Revan berbunyi, pertanda bahwa dirinya sedang lapar. Suara perutnya terdengar hingga ke telinga gadis itu. Seketika Diandra menoleh ke arahnya. Revan berusaha menyembunyikan rasa malu dengan menyuruh gadis itu untuk membelikan makanan untuknya. Revan memasang wajah nanar, memberikan beberapa…
ReadmoreChapter 8: Go Away
Archand menghampiri mantan kekasihnya yang sedang duduk di salah satu meja kantin. Segera dia memesan dua mangkok bakso untuk dirinya dan gadis yang berada di depannya. Meski Diandra sempat menolak, tapi Archand tetap tak ingin mendengar penolakan dari gadis cantik yang sedang duduk…
ReadmoreChapter 9: Jangan Bahas Masa Lalu
Archand memegang kedua sisi pundaknya, mencoba menenangkan sang mantan. Gadis berparas cantik itu terbungkam, menatapnya dengan tatapan tajam. Dia pun bingung memberikan tanggapan untuk pria yang berada depannya. Apakah dia harus bahagia atau marah pada pria itu? Di sisi lain, gadis itu merasa…
ReadmoreChapter 10: Curi Pandang
Archand dan Diandra masuk bersamaan di ruang VIP, Diandra masih menunduk, tak berani membalas tatapan Revan yang menatap tajam kepadanya. Dia takut jika Revan akan memarahinya dan memecatnya dari kantor. Archand menyadari hal tersebut hingga akhirnya dia menarik tangan Diandra agar menjauh dari…
ReadmoreChapter 11: Bertemu Mantan
Sebuah mobil berwarna hitam berhenti di halaman rumah Diandra, suara mobil Archand terdengar hingga ke kamar Florensia. Gadis itu keluar mengintip di balik jendela ruang tamu. Gadis itu berdecak kesal melihat sang kakak keluar dari mobil mewah milik sang pujaan hati. Dia begitu…
ReadmoreChapter 12: Mantanku Lugu
Archand kembali tertawa ketika mendengar ucapannya. Diandra terlalu polos hingga merasakan ketakutan yang berlebihan, tak ubah remaja yang pemikirannya masih labil. Diandra memang tidak bisa bersikap dewasa dan tak memiliki jiwa pemimpin sama sekali, sikapnya sangat berbeda jauh dengan Florensia sang adik. “Ya…
ReadmoreChapter 13: I’m Jealous
Archand kembali tertawa ketika mendengar ucapannya. Diandra terlalu polos hingga merasakan ketakutan yang berlebihan, tak ubah remaja yang pemikirannya masih labil. Diandra memang tidak bisa bersikap dewasa dan tak memiliki jiwa pemimpin sama sekali, sikapnya sangat berbeda jauh dengan Florensia sang adik. “Ya…
ReadmoreChapter 14: Aku Bahagia
“Dulunya iya, Nak. Tapi sekarang sudah tidak kuat lagi.” Wanita paruh baya itu tersenyum. “Tapi, anak-anak tante cuma satu yang tertarik untuk melatih langkahnya, dia anak tante yang paling tua, hanya saja dia mengurungkan niatnya untuk menjadi atlet lari karena mengidap anemia sejak…
ReadmoreChapter 15: Mengaguminya
Seketika Revan telah membuat gadis itu menjadi emosi, dengan berani gadis itu kembali membentak Revan kemudian berlari menuju pintu keluar. Florensia benar-benar tidak habis pikir kenapa Revan begitu dendam padanya, menuduh gadis itu dengan hal yang tidak pernah dia lakukan sama sekali. “Maaf…
ReadmoreChapter 16: Saling Mengenal
Florensia membungkam mulutnya, dia tak sadar jika Revan ada di seberang sana. Pria itu menatapnya dengan tatapan tajam, membuatnya bergeming dan tak memberi respon apapun. Gadis itu kembali melanjutkan bacaan novelnya dan tak memperdulikan pria yang sedang menatapnya. Kenapa dia menatapku seperti itu?…
ReadmoreChapter 17: Dia Memang Menarik
Gadis itu berpikir bahwa keduanya menjalin hubungan spesial. Pertanyaan demi pertanyaan kian bergentayangan dalam pikiran. “Apakah gadis itu kekasihnya Revan? Bisa saja Revan menaruh hati kepadanya, kalau memang benar, aku gak punya peluang.” Florensia bergumam dengan dirinya sendiri. Lagian aku kenapa sih? Masa…
ReadmoreChapter 18: Menentukan Pilihan
Seketika suasana menjadi sepi tanpa kehadirannya. Renata berdiri di ambang pintu, masih menatap langkah sang gadis yang perlahan menghilang dari pandangannya. Renata melangkah masuk, mengunci pintu rapat-rapat. Seketika suasana tampan hening, saat dirinya kehilangan teman untuk berbagi kisah. Rasa sepi mengelabui hatinya, saat…
ReadmoreChapter 19: Terpesona
Archand melepaskan pelukannya terhadap gadis itu, jantungnya berdegup cepat menatap bola mata indah milik Florensia. Gadis bertubuh jenjang itu membalas tatapannya membuat Archand semakin terpesona padanya, sungguh indah senyuman yang dipamerkan sang gadis. Sekuat tenaga, dia menyembunyikan rasa kagumnya terhadap Florensia Archand takut…
ReadmoreChapter 20: Dilema
Diandra menghela napas, menatap Revan yang tertawa melihat mimik wajahnya, pria itu menggenggam jemari Diandra. Tak lagi memperlakukan Diandra dengan kasar, melainkan menatapnya dengan tatapan prihatin. Meski tak tahu apa yang tengah gadis itu sembunyikan. Revan merasakan kesedihan yang sama seperti m yang…
Readmore





