Table of Contents
- Chapter 1: Bab 1. Sawah dan tikus
- Chapter 2: Bab 2.Gudang tua yang misterius
- Chapter 3: Bab 3. Dunia yang asing
- Chapter 4: Bab 4. Penolong dari kabut
- Chapter 5: Bab 5. Penjaga bayangan
- Chapter 6: Bab. 6 Tanda tanda kebangkitan
- Chapter 7: Bab 7. Bisikan dari kegelapan
- Chapter 8: Bab. 8 Cahaya Di ujung kabut
- Chapter 9: Bab 9. Desa Cahaya
- Chapter 10: Bab 10.Komfrontasi pertama
Lates Chapters
Epilog : Di depan Gudang Yang Tidak Pernah Sepi
Sore hari selalu datang dengan cara yang sama. Langit perlahan menguning, angin berhembus pelan, dan gudang tua itu berdiri diam seperti tidak pernah menyimpan apa pun. Namun bagi Agus dan Dudung, tempat itu tidak pernah benar-benar kosong. Mereka duduk di depan gudang,…
Bab 19. Dunia yang bertabrakan
Pagi tidak pernah benar-benar datang. Langit di dunia manusia tampak pucat, seperti warna yang dicuci berkali-kali hingga kehilangan makna. Orang-orang berjalan seperti biasa, namun ada jeda kecil dalam setiap gerakan—sepersekian detik yang terasa salah, seperti dunia ini sedang terlambat memahami dirinya sendiri.…
Bab 18: Malam ketiga. Sebuah harga yang tidak kembali.
Ketika malam ketiga datang tanpa suara. Tidak ada bisikan. Tidak ada bayangan merayap di dinding. Tidak ada panggilan yang menggoda. Kesunyian itu sendiri yang menjadi ancaman. Agus duduk di lantai kamarnya dengan punggung bersandar pada ranjang. Lampu padam, hanya cahaya bulan yang…
Bab 17. Penjaga Retakan
Langit dunia lain berdenyut seperti luka terbuka. Rangga berlutut di tanah abu-abu, napasnya terengah. Setiap tarikan terasa seperti menelan pecahan kaca. Simbol penjaga di lengannya—yang dulu bercahaya tenang—kini berkedip tak beraturan, seolah ragu mengakui pemiliknya. Ikatan itu berbalik…
Bab 16.ikatan yang terbangun
Agus terbangun dengan rasa panas menjalar di telapak tangannya. Tanda kebiruan itu berdenyut pelan, seperti nadi kedua yang tumbuh di luar tubuhnya. Gudang masih sunyi—terlalu sunyi—seolah dunia menahan napas setelah hampir terjadi sesuatu yang tak dapat dibatalkan. Ia bangkit tertatih. Setiap langkah…
Comments
2 pemikiran pada “Gudang bayangan, gerbang ke dunia lain”
Tinggalkan komentar
You May Also Like
20 Chapters
Chapter 1: Bab 1. Sawah dan tikus
Siang itu, matahari menggantung tepat di atas kepala, memancarkan terik yang seolah membakar kulit. Hamparan sawah di Desa Waringin Jaya berkilauan keemasan, batang padi menunduk berat karena bulirnya mulai terisi penuh. Angin sesekali berhembus, membawa aroma lumpur dan dedaunan basah yang khas. Di…
ReadmoreChapter 2: Bab 2.Gudang tua yang misterius
Beberapa saat lamanya Rangga masih terdiam menatap gudang tua itu. Keningnya berkerut, seolah ada sesuatu yang aneh di balik bangunan reyot itu. Apa benar kata orang-orang desa kalau… tempat itu angker? pikirnya sambil menggaruk kepalanya pelan. “Hei, Rangga! Kamu tidak pulang?” suara…
ReadmoreChapter 3: Bab 3. Dunia yang asing
Angin berhembus pelan membawa aroma lembap yang asing. Saat Rangga membuka mata, yang pertama kali ia rasakan adalah dinginnya tanah di bawah tubuhnya. Ia mengerjap pelan, mencoba menyesuaikan pandangan. Namun apa yang tampak di hadapannya membuatnya membeku. Hutan. Tapi bukan hutan yang…
ReadmoreChapter 4: Bab 4. Penolong dari kabut
Rangga berjalan tanpa arah di antara pepohonan yang tinggi menjulang. Langit di atasnya bukan biru seperti biasanya, melainkan berwarna keunguan pucat dengan gumpalan awan hitam yang bergerak perlahan. Angin berembus pelan membawa aroma asing—campuran tanah basah dan logam. Setiap langkah Rangga membuat…
ReadmoreChapter 5: Bab 5. Penjaga bayangan
Kabut di hutan itu semakin tebal. Setiap napas yang Rangga hirup terasa lembab dan berat, seolah udara di dunia ini tak dibuat untuk paru-paru manusia. Lira berjalan di depan, langkahnya ringan, nyaris tanpa suara. Jubahnya melambai lembut, memantulkan cahaya samar dari rembulan…
ReadmoreChapter 6: Bab. 6 Tanda tanda kebangkitan
Angin dingin menyusup masuk di antara pepohonan hitam yang melingkari hutan asing itu. Langitnya tetap bergolak dalam warna ungu gelap, seperti kabut yang menari tanpa arah. Rangga berdiri mematung di tepi sebuah aliran air yang berpendar cahaya biru. Di sana, perempuan misterius…
ReadmoreChapter 7: Bab 7. Bisikan dari kegelapan
Hutan itu semakin sunyi. Angin tidak lagi berhembus, seakan seluruh dunia asing itu sedang menahan napas. Rangga berjalan perlahan di belakang Lira, tubuhnya masih lemas setelah ledakan cahaya yang tak sengaja ia keluarkan. Setiap langkah terasa berat, dan telapak tangannya masih berdenyut-denyut…
ReadmoreChapter 8: Bab. 8 Cahaya Di ujung kabut
Malam di dunia asing terasa panjang. Di kejauhan, rembulan ungu memancarkan sinar redup yang menembus sela dedaunan pekat. Kabut menggulung pelan, menciptakan bayangan bergerak di antara batang-batang pohon. Di tepi sungai bercahaya, Lira duduk menjaga Rangga yang tertidur lelap dengan napas berat.…
ReadmoreChapter 9: Bab 9. Desa Cahaya
Kabut perlahan menyingkir ketika Rangga dan Lira menuruni jalur batu menuju sebuah dataran tinggi. Langkah Rangga terasa lebih mantap dibanding hari-hari sebelumnya, meski rasa lelah belum sepenuhnya menghilang dari tubuhnya. Cahaya di dadanya kini tidak lagi berdenyut liar, melainkan tenang—seperti bara api yang…
ReadmoreChapter 10: Bab 10.Komfrontasi pertama
Langit di atas Desa Cahaya bergetar, seperti permukaan air yang disentuh dari bawah. Cahaya pelindung desa meredup, garis-garis tipis yang biasanya berkilau kini berdenyut tidak stabil. Angin dingin berhembus membawa bau tanah basah dan sesuatu yang lebih gelap—bau ketakutan. Rangga berdiri di tengah…
ReadmoreChapter 11: Bab. 11 Retakan di dunia manusia
Gudang tua itu tidak pernah benar-benar sunyi sejak malam Rangga menghilang. Kayu-kayu lapuk di dindingnya kerap berderit meski tak ada angin, dan lantai tanahnya menyimpan bekas hangus berbentuk lingkaran yang tak bisa dijelaskan siapa pun. Namun pagi itu, suasananya terasa berbeda—lebih berat, seolah…
ReadmoreChapter 12: Bab 12.Kembali ke Ambang Gerbang
Udara di ambang gerbang terasa berbeda. Tidak sepenuhnya milik dunia asing, tetapi juga bukan lagi dunia manusia. Ruang itu seperti terlipat—hening, dingin, dan berdenyut perlahan mengikuti irama cahaya di dada Rangga. Di hadapannya, celah besar berputar pelan. Bukan lagi pintu kayu gudang, melainkan…
ReadmoreChapter 13: Bab 13. Penjaga Ambang
Pintu besi gudang itu berderit pelan, seolah ikut menahan napas. Lampu neon di langit-langit berkedip, memantulkan bayangan panjang di lantai berdebu. Rangga berdiri di ambang gerbang—garis tipis cahaya kebiruan yang bergetar seperti permukaan air—sementara Agus terpaku beberapa langkah di belakangnya. “Jangan melangkah…
ReadmoreChapter 14: Bab 14.Panggilan dari balik dinding
Gudang itu kembali sunyi, namun bagi Agus, kesunyian justru terasa berisik. Setiap sudut seperti menyimpan gema suara Rangga—tegas, terburu, seolah masih berdiri di depannya. Simbol kebiruan di lantai gudang perlahan memudar, tapi perasaan sesak di dada Agus justru semakin menguat. Ia pulang…
ReadmoreChapter 15: Bab 15.Ambang yang menipu
Pintu gudang itu terbuka perlahan, seolah tidak digerakkan oleh tangan Agus, melainkan oleh sesuatu yang telah lama menunggunya. Engselnya berdecit lirih, suara yang menusuk kepala seperti jeritan tertahan. Cahaya kebiruan di dalam gudang berdenyut tidak stabil—kadang terang, kadang meredup—membuat bayangan di dinding…
ReadmoreChapter 16: Bab 16.ikatan yang terbangun
Agus terbangun dengan rasa panas menjalar di telapak tangannya. Tanda kebiruan itu berdenyut pelan, seperti nadi kedua yang tumbuh di luar tubuhnya. Gudang masih sunyi—terlalu sunyi—seolah dunia menahan napas setelah hampir terjadi sesuatu yang tak dapat dibatalkan. Ia bangkit tertatih. Setiap langkah…
ReadmoreChapter 17: Bab 17. Penjaga Retakan
Langit dunia lain berdenyut seperti luka terbuka. Rangga berlutut di tanah abu-abu, napasnya terengah. Setiap tarikan terasa seperti menelan pecahan kaca. Simbol penjaga di lengannya—yang dulu bercahaya tenang—kini berkedip tak beraturan, seolah ragu mengakui pemiliknya. Ikatan itu berbalik…
ReadmoreChapter 18: Bab 18: Malam ketiga. Sebuah harga yang tidak kembali.
Ketika malam ketiga datang tanpa suara. Tidak ada bisikan. Tidak ada bayangan merayap di dinding. Tidak ada panggilan yang menggoda. Kesunyian itu sendiri yang menjadi ancaman. Agus duduk di lantai kamarnya dengan punggung bersandar pada ranjang. Lampu padam, hanya cahaya bulan yang…
ReadmoreChapter 19: Bab 19. Dunia yang bertabrakan
Pagi tidak pernah benar-benar datang. Langit di dunia manusia tampak pucat, seperti warna yang dicuci berkali-kali hingga kehilangan makna. Orang-orang berjalan seperti biasa, namun ada jeda kecil dalam setiap gerakan—sepersekian detik yang terasa salah, seperti dunia ini sedang terlambat memahami dirinya sendiri.…
ReadmoreChapter 20: Epilog : Di depan Gudang Yang Tidak Pernah Sepi
Sore hari selalu datang dengan cara yang sama. Langit perlahan menguning, angin berhembus pelan, dan gudang tua itu berdiri diam seperti tidak pernah menyimpan apa pun. Namun bagi Agus dan Dudung, tempat itu tidak pernah benar-benar kosong. Mereka duduk di depan gudang,…
Readmore






🤩🤩🤩🤩🤩
Keren Loh Ka… lanjut ya please