Table of Contents
- Chapter 51: Bab 51 Negosiasi Niken
- Chapter 52: Bab 52. Botol Obat Bella
- Chapter 53: Bab 53. Sarah Oh Sarah
- Chapter 54: Bab 54. Kalina Di Kampus
- Chapter 55: Bab 55. Persiapan Sidang Heru
- Chapter 56: Bab 56. Cintanya Heru
- Chapter 57: Bab 57. Pernikahan Michael
- Chapter 58: Bab 58. Sarah Kemana?
- Chapter 59: Bab 59. Heru, Lo dimana?
- Chapter 60: Bab 60. Sebaiknya Kita Pisah
Lates Chapters
Bab 98. Akhir Sebuah Kisah
"Disini jam 10 malam Bun. Aku tidak bercanda." "Oke! Ceritakan pada Bunda, apa yang terjadi disana." Helena mendengarkan Sarah dengan lebih serius. Sarah menceritakan bagaimana dia bertemu dengan Bella, dan bagaimana Bella bisa berada di Paris, dan bagaimana Bella mengalami penyakit…
Bab 97. Akhir Perjalanan Bella
"Maafkan aku Sarah. Maafkan aku Heru! Aku telah jahat pada kalian! Ya aku yang sudah membunuh Daddy dengan memasukkan obat hingga over dosis, aku juga yang sudah membunuh Haryadi karena dia ingin harta warisan yang diberikan oleh Sugandi, tapi aku membela diri, karena…
Bab 96. Gelandangan di Paris
Setelah mendapatkan ijin dari dokter kandungan untuk pergi honeymoon ke Paris, Heru menyewa pesawat pribadi agar perjalanan mereka lebih nyaman. "C'est votre numéro de chambre, 3ème étage numéro 3023, bonne lune de miel," ucap seorang resepsionis hotel Shangrila, Paris. (Ini nomor…
Bab 95. Pernikahan Ulang
"Hahaha." Sarah tidak bisa menjawab apapun karena humor madam Gun disertai dengan ekspresinya membuat Sarah tertawa. Heru yang melihatnya hanya tersenyum dan menutup wajahnya dengan majalah mode. "Taraaa!!! Sudah cantik!" Madam Gun memegang jari Sarah dan memutarnya untuk diperlihatkan kepada Heru, "Her,…
Bab 94. Pembatalan Pernikahan
"Pak Hakim yang terhormat, ibu Bella masih menjadi buronan sampai saat ini," ucap Hotman Ferris disertai dengan anggukan dari pihak hakim. Hotman Ferris menampilkan Sarah sebagai saksi selanjutnya. Sarah menceritakan awal mula dia didatangi oleh Bella dan kedua bodyguardnya, Hercules dan Bima kemudian…
Comments
You May Also Like
20 Chapters
Chapter 1: Bab 1. Utang Om Haryadi
Seorang wanita paruh baya dengan tangan gemetar dan raut muka yang sedang menahan emosinya, sedang mengangkat tangan ke atas dan dengan cepat mendarat pada pipi pria yang sedang berlutut di hadapannya. Pria itu meringis memegang pipinya yang terasa panas terbakar. Dengan air matanya,…
ReadmoreChapter 2: Bab 2. Cewek Gila dan Anak Konglomerat
Dimalam yang sama, di tempat kediaman Hadiningrat, Heru masuk ke dalam rumahnya yang sudah gelap, pintunya dibuka dan tiba-tiba saja lampu ruang tamu menyala, "Bagus yah! Jam segini baru pulang?" tanya ayahnya sambil berkacak pinggang. Matanya melotot dan dahinya mengkerut menahan kesal. Heru…
ReadmoreChapter 3: Bab 3. Mahar Lima Milyar
Sarah berjalan tanpa harapan. Berjalan dan berjalan tanpa sadar ada seseorang di lorong sepi yang hendak mengintainya. "Hiyaaa!" Seseorang berteriak ketika Sarah melewati tempatnya bersembunyi. "Aargh!" Sarah kaget seseorang menyeretnya. Dia tidak mau berdiam diri, dia berontak menginjak kaki pelaku, menggigit…
ReadmoreChapter 4: Bab 4. Pembicaraan Serius
Dentuman suara musik yang memekakkan telinga tidak membuat Heru, sang Casanova, beranjak dari kursi sofanya. Tidak ada yang tidak mengenal dirinya. Anak konglomerat dari Sugandi Hadiningrat yang memiliki perusahaan fashion terbesar di Indonesia. Fotonya sejak dari remaja sudah terpampang di berbagai outlet sebagai…
ReadmoreChapter 5: Bab 5. Cewek Rekomendasi Tante Bella
"Kalina!!" pekik Anggie, melihat tangan yang terkena goresan kaca gelas. "Hati-hati, lo." Anggie panik, mengambil tisu untuk membersihkan tangan Kalina yang terluka. "Lo urus Kalina, gue mau telepon Heru," kata Michael yang tidak terlalu suka mendengar curhatan para wanita, jadi sebaiknya…
ReadmoreChapter 6: Bab 6. Rumah disita
Sarah menyalakan mobilnya dan kembali pulang ke rumah. Dia hendak mengambil beberapa baju untuk bundanya, dan untuk dirinya. Dia memutuskan untuk tidur di rumah sakit daripada tidur di rumah yang besar tapi selalu memikirkan bundanya. Mobil Sarah mendekati rumahnya, tetapi tampak dari…
ReadmoreChapter 7: Bab 7. Kontrak Perjanjian
Sarah ragu untuk menceritakan masalah hidupnya. Tapi sejauh ini, dia betul-betul frustasi. Bagaimana cara dia mengembalikan rumah dan hotel milik ayahnya serta pengobatan ibunya. Sarah menghela nafasnya. "Om gue gadaikan hotel milik bokap gue karena judi. Rumah gue disita buat pembayaran hutangnya,…
ReadmoreChapter 8: Bab 8. Yang Terpenting Bunda
"Apa maksud lo, dengan tampil glamor dan berkelas?" tanya Sarah. Dilihatnya, baju yang dia kenakan, kaos kegombrangan, karena asal ngambil, celana jeans berwarna biru sobek-sobek, dibalut jaket parasut, berkacamata, tanpa make up, di kuncir kuda, dan belum mandi. "Heh! Apa karena…
ReadmoreChapter 9: Bab 9. Madam Gum Sumber Berita
"Jangan lupa hari ini, jam 3 kita akan ketemu dengan bokap gue!" Begitu pesan dari Heru pada aplikasi hijau milik Sarah. "Siapa Sarah?" tanya Helena. "Cuma teman ngajak belajar bareng, tapi sore, Sarah ragu apa bisa tinggalin bunda sendirian disini…
ReadmoreChapter 10: Bab 10. Gosip Tante Bella
"Apa tante gue masih sering kemari?" tanya Sarah kaget. "Dia? Ya seringlah, sesuai jadwal," ucap madam Gun. Sarah kaget, tante Bella adalah istri dari om-nya, om Haryadi. Tapi beberapa tahun terakhir, tantenya pergi meninggalkan om-nya. Jika tantenya tetap rutin ke salon,…
ReadmoreChapter 11: Bab 11. Keanehan Tante Bella
Bella terperanjat, melihat sosok yang dibawa oleh Heru. Tampak raut mukanya yang panik, berusaha untuk ditutupi. "Ayo duduk!" suruh Heru. Dia mempersilahkan Sarah duduk. Heru berhadapan dengan ayahnya, sedangkan Sarah berhadapan dengan Bella. Baru saja Sarah duduk, dia melihat seseorang yang…
ReadmoreChapter 12: Bab 12. Hari H
"Lo kan dah dengar gue ngomong. Ambil barang lo di jok belakang," ucapnya sekali lagi. Sarah pun menengok ke jok belakang, ada kantung kresek besar, dan dia pun mengambilnya. Dilihat apa yang ada di dalamnya ternyata, barang-barang miliknya yang tadi dipakai sebelum…
ReadmoreChapter 13: Bab 13. Terlambat
Dengan cekatan, Dewi mengambil peralatan makeup yang biasa dia gunakan. Sarah dan Helena biasanya cukup ditangani oleh karyawan madam Gun seperti Dewi ini, karena menurutnya polesan tangan Dewi pun tidak jauh berbeda dengan madam Gun, yang berbeda hanya harganya saja. Tentu dibarengi dengan…
ReadmoreChapter 14: Bab 14. Tidak Ada Kamar Pengantin
Sarah membuka dan membacanya sekali lagi, kalau-kalau ada perubahan yang tidak dia ketahui. Setelah semuanya sama, Sarah masukan dokumennya ke dalam tas ranselnya. "Oke! Terima kasih. Hmm ... gue ada permintaan," pinta Sarah. "Apa?" "Besok, nyokap gue di operasi,…
ReadmoreChapter 15: Bab 15. Perayaan Kecil Di Rumah Mewah
Dilihatnya barang yang dibawa Daman tergeletak di pinggir tembok. Sarah menaruh kopernya pun di samping barang-barang miliknya. "Adakah lemari kosong untuk menaruh barang-barang gue?" tanya Sarah kepada Heru yang sedang bermain ponsel di kasur. "Tidak ada," ucap Heru tanpa menoleh. …
ReadmoreChapter 16: Bab 16. Tidak Ada Malam Pengantin
Sarah melihat jam tangannya, sudah hampir jam lima sore. Malam ini dia harus kembali ke rumah sakit untuk menemani bundanya yang akan dioperasi besok. "Her, mobil gue udah selesai belum ya? Gue mesti ke rumah sakit. Malam ini, gue pengen nemenin nyokap gue…
ReadmoreChapter 17: Bab 17. Tujuan Sugandi
Sarah menunggu di ruang tunggu, sementara Helena sedang dalam operasi bypass untuk jantungnya. Perasaannya gundah, hanya bisa berdoa, supaya operasinya berjalan dengan baik. Selama empat jam, Sarah menunggu bundanya dioperasi. Hingga akhirnya pintu ruang operasi dibuka lebar dengan brankar yang di dorong…
ReadmoreChapter 18: Bab 18. Heru Di Tempat Kerja
Sarah langsung mencari makan dengan cepat. Dia tidak mau bundanya siuman ketika dia sedang makan. Setelah makan, Sarah pun langsung Kembali ke ruang rawat bundanya melalui jalan lain. Dia tidak ingin berpapasan dengan Sugandi dan Bella. Dilihat jam sudah pukul 12…
ReadmoreChapter 19: Bab 19. Penampilan Sarah
Sarah langsung berlari dan masuk ke dalam mobil. "Terima kasih sudah mau jemput," ucap Sarah sambil tersenyum senang. "Lain kali, pulang sendiri yah, gue kan bukan supir lo," ucap Heru datar sambil melajukan mobil ke arah rumahnya. Sarah yang tersenyum kemudian…
ReadmoreChapter 20: Bab 20. Tiket Honeymoon
"Gue mesti nungguin Heru atau tidak ya?" tanya Sarah. Dia tidak ingin mencium harum tubuh Heru karena membuatnya semakin ingin dekat, "Hiii ...," Sarah menggedik geli. "Her!!! Gue turun ke bawah yah!" seru Sarah di pinggir pintu. Dia tidak ingin berlama-lama dengan…
Readmore





