Table of Contents
- Chapter 11: Part 011. Paviliun Xing He
- Chapter 12: Part 012. Mulai Bergerak
- Chapter 13: Part 013. Paviliun Mei Hua
- Chapter 14: Part 014. Sebuah Harapan
- Chapter 15: Bagian 015. Racun Kutukan Serigala
- Chapter 16: Bagian 016. Operasi
- Chapter 17: Bagian 017. Jasa Kedua
- Chapter 18: Bagian 018. Masuk Istana
- Chapter 19: Bagian 019. Lamaran
- Chapter 20: Bagian 020. Dua Bersaudara yang Tidak Akur
Lates Chapters
Bagian 029. Mengatur Kamar untuk Mereka
Part 29. Mengatur Kamar untuk Mereka Di Paviliun Mei Hua, sekumpulan gadis muda dan cantik yang berjumlah dua puluh orang sedang berbicara serius di Aula utama. Keberadaan mereka di tempat ini sudah terlalu lama tanpa kepastian. Mereka sedang bertukar pikiran untuk mencari…
Bagian 028. Pangeran Kedua
Part 28. Pangeran Kedua Suasana sedikit canggung. Peristiwa hari ini memang terjadi di luar ekspektasi. Huantian yang berniat baik menghibur Ying Lan, tapi kini malah terabaikan. Dua adiknya saling berbagi kehangatan tanpa mengajaknya ikut serta. Kendati hatinya tidak rela menyaksikan keakraban Lan’er…
Bagian 027. Tiga Pangeran Minum Teh Bersama
Part 27. Tiga Pangeran Minum Teh Bersama Putra Mahkota Da Liang, Murong Huantian mengibaskan jubahnya ketika keluar dari kereta kuda. Pangeran Pertama saat ini sudah berada di depan Aula Utama Istana Selir Zhou. Beliau adalah Ibunda selir dari Pangeran Kedua. Begitu melihat…
Bagian 026. Permaisuri Xin
Part 26. Permaisuri Xin "A Yuan, aku ... lapar." Xin Qian memasang wajah memelas. Gadis itu baru saja selesai berhias, tapi Pangeran Ketiga sudah tidak sabaran mau mengajaknya pergi. Padahal dia belum sempat mengisi perut yang keroncongan. Mungkin karena terdorong oleh keinginan…
Bagian 025. A Yuan Marah
Part 25. A Yuan Marah "Hiyaaa! Hiyyaaa!" "Xiao Shan, maaf merepotkanmu untuk terus berlari. Kita tidak boleh terlambat sampai Ibukota!" Wajah cantik Xin Qian terlihat serius. Kuda ferghana hitam miliknya melesat bagaikan anak panah meninggalkan Gunung Fenghuang. Seperti kesetanan, gadis…
Comments
20 Chapters
Chapter 1: Part 001. Teleportasi
Dor dorr dorr Suara letusan timah panas bersahut-sahutan meramaikan keheningan pegunungan. Ada lima pria bertubuh tegap mengejar sesosok tubuh yang terbalut pakaian serba hitam yang berlari dengan begitu lincah. Baku tembak terjadi tak bisa dihindari. Sosok yang dikejar itu jelas seorang wanita. Lekuk…
ReadmoreChapter 2: Part 002. Pangeran Murong yang Tampan
Saat ini, Xin Qian menjadi tawanan karena dituduh sebagai mata-mata Negara Qing. Sungguh, takdir sedang bercanda dengannya dengan kejam. Jika dipikir-pikir, mati di tangan Lin Chao Feng setidaknya sedikit lebih baik, karena dia mati saat menjalankan tugas. Berbeda dengan situasi sekarang. Jika dia…
ReadmoreChapter 3: Part 003. Tunduk Padanya
Suara riuh pertarungan mencuri perhatian para prajurit yang berjaga di barak militer malam ini. "Ada penyusup, tangkap!" Dalam waktu sekejap mata, para prajurit berkerumun menyaksikan pertarungan tujuh lawan dua. Pakaian serba hitam membungkus tubuh tujuh pria yang serentak menyerang Xue dan Ming Ye.…
ReadmoreChapter 4: Part 004. Senjata Surgawi
Atap barak militer perbatasan Da Liang tertutupi salju menyisakan kejutan di hati Xin Qian. Hamparan salju memutih sejauh mata memandang. Gadis itu masih belum habis menurutku. Kenapa dia bisa tersesat di tempat ini dengan musim yang berbeda? Biarpun dia ingin mangabaikan semua…
ReadmoreChapter 5: Part 005. Ritual Khusus
SPM - Part 5. Ritual Khusus Suasana malam di barak militer Da Liang kembali sunyi. Yunxi, Ming Ye dan Xue sibuk menyiapkan semua bahan untuk membuat senjata dewa yang diminta oleh Xin Qian. Sementara Murong Xuan Yuan mengajak Xin Qian masuk…
ReadmoreChapter 6: Part 006. Menang Perang
SPM - Part 6. Menang Perang Setelah berhari-hari Xin Qian sibuk bekerja di di halaman belakang kediaman panglima, hari ini Xuan Yuan merawat gadis ini dengan baik di ruangan pribadinya. Xin Qian tidur seharian di ranjang Xuan Yuan tanpa segan. Baru ketika…
ReadmoreChapter 7: Part 007. Terkena Racun
SPM - Part 7. Terkena Racun Di perbatasan Da Liang, semua aktivitas kembali berjalan dengan normal. Xuan Yuan masih menempatkan pasukan di sana seperti biasanya. Tanpa menurunkan ke kewaspadaan, prajurit jaga diatur sedemikian rupa secara bergiliran berkeliling untuk memastikan keamanan. Hari-hari…
ReadmoreChapter 8: Part 008. Perjalanan ke Hangzhou
Part 8. Perjalanan ke Hangzhou Udara musim semi berembus hangat. Di markas militer perbatasan, tiga pengawal pribadi Xuan Yuan sibuk menyiapkan pasukan yang akan kembali ke Hangzhou pagi ini. Semalaman mereka tidak bisa tidur demi memastikan kondisi sang Majikan. Kendati demikian,…
ReadmoreChapter 9: Part 009. Ibukota Hangzhou
Part 9. Hangzhou Berita tentang kepulangan dua puluh ribu pasukan Da Liang dari perbatasan sudah sampai di telinga Kaisar. Meskipun pasukan besar itu baru akan sampai di Hangzhou satu pekan lagi, Kaisar telah menyiapkan sambutan yang luar biasa. Kemenangan besar yang…
ReadmoreChapter 10: Part 010. Istana Xi Wei
Part 10. Istana Xi Wei Dua puluh ribu pasukan Da Liang yang telah berjalan selama tiga puluh hari dari perbatasan semakin bersemangat. Pasalnya, hari ini mereka akan sampai di Ibukota. Akhir peperangan yang baik, mereka sama sekali tidak menyesal menjadi bagian dari…
ReadmoreChapter 11: Part 011. Paviliun Xing He
Part 11. Paviliun Xing He Seorang wanita dengan pakaian brukat dengan warna perpaduan biru muda dan biru tua duduk tampak begitu megah di aula utama paviliun Lien Hua. Dia adalah Selir Hui Yuan Shi. Xin Qian menatap wanita itu dari kejauhan dengan…
ReadmoreChapter 12: Part 012. Mulai Bergerak
Part 12. Mulai Bergerak Menuju aula utama paviliun Xing He, mereka harus melewati danau yang cukup besar. Bunga teratai tumbuh begitu indah di sana. Istana Pangeran Ketiga ternyata semegah ini. Jika hidup di dunia modern, pria tampan ini pasti seorang triliuner. Xin…
ReadmoreChapter 13: Part 013. Paviliun Mei Hua
Part 13. Paviliun Mei Hua Kedatangan Shu Ling di Aula samping ini menjadi hiburan tersendiri bagi Xin Qian. Minimal, dia bisa menghilangkan suasana hatinya yang buruk karena sikap Yunxi yang selalu bersikap semena-mena padanya. Xin Qian menyukai karakter Shu Ling yang…
ReadmoreChapter 14: Part 014. Sebuah Harapan
Part 14. Sebuah Harapan Xin Qian berjalan sambil menggerutu. Pelayan kecilnya ini benar-benar polos. Itu sangat menyebalkan. Dalam perjalanan kembali, Shu Ling masih saja bertanya padanya kenapa majikannya itu tidak mau menerima undangan para calon selir. Xin Qian hampir mati kesal dibuatnya.…
ReadmoreChapter 15: Bagian 015. Racun Kutukan Serigala
Part 15. Racun Kutukan Serigala Tirai malam yang berwarna hitam pekat, membungkus Istana Xi Wei dengan sempurna. Matahari telah kembali ke peraduan beberapa saat yang lalu. Di langit, sinar bulan yang bulat penuh bersinar terang, tapi tak sepenuhnya berhasil mengusir kegelapan. Meski…
ReadmoreChapter 16: Bagian 016. Operasi
Part 16. Operasi Seorang pria berseragam tabib istana berjalan tergopoh-gopoh sambil menggendong kotak obat milikinya. Beberapa kali, Tabib Yang melirik Ming Ye, setidaknya dia harus tahu apa yang terjadi. Pengawal pribadi itu hanya berkata pada bahwa Pangeran Ketiga mendadak sakit dan…
ReadmoreChapter 17: Bagian 017. Jasa Kedua
Part 17. Jasa Kedua Ada yang bilang bahwa dinding-dinding Istana mempunyai mata dan telinga. Ternyata ucapan itu bukanlah omong kosong belaka. Meskipun tiga pengawal telah berusaha memblokir berita perihal Pangeran Ketiga yang mendadak sakit, ternyata masih berhasil lolos sampai di telinga…
ReadmoreChapter 18: Bagian 018. Masuk Istana
Part 18. Masuk Istana Langkah kaki gadis petualang waktu itu terayun menuju aula utama setelah menghabiskan makan siangnya. Hari ini dia harus merawat luka bekas operasi A Yuan. Kelengkapan medis di tempat ini masih sangat primitif, jika tidak dirawat dengan benar, takutnya…
ReadmoreChapter 19: Bagian 019. Lamaran
Part 19. Lamaran Kereta kuda telah sampai di Istana Xi Wei, keduanya menghadap Selir Hui Yuan Shi. Xin Qian ingin mengucapkan terima kasih, Selir Hui telah mengirimkan banyak hadiah padanya tadi pagi. Begitu tiba, Fu Jing menyambut keduanya di depan Paviliun Lien…
ReadmoreChapter 20: Bagian 020. Dua Bersaudara yang Tidak Akur
Part 20. Dua Bersaudara yang Tidak Akur Istana Fengyi Permaisuri Lao Yin Fang Putra mahkota duduk dengan malas di hadapan Permaisuri Lao Yin Fang. Bahunya merosot bersandar di kursi malas. Hatinya sungguh terganggu dengan kejadian di Pengadilan Istana hari ini.…
Readmore





