Table of Contents
Lates Chapters
Berakhir
"Wah! Mirip istana di negeri dongeng!" Cecilia berseru saat motor besar Harry berhenti di depan sebuah bangunan megah bak istana. "Rumah keluarga Wong kurang lebih juga seperti ini." Harry tersenyum melirik Cecilia yang menatap bangunan di depannya dengan kagum. "Kalau kau ingin menjadi…
Sahabat Masa Kecil
"Pak Wang silakan!" Sebastian mempersilakan Darren Wang untuk duduk. Mereka kini berada di kafe yang dikelola anak buah mendiang Anthony. Di sudut kafe yang sepi karena pagi telah menjelang. Kafe ini bisa dikatakan buka sepanjang waktu. "Harry, tidak pernah aku bayangkan bisa berbicara…
Di Pelabuhan
Sebastian menatap ke sekeliling yacht. Sepi, seperti tidak ada yang menjaga. Perlahan dia menelusuri geladak dan mengetuk pintu yang diyakininya sebagai sebuah ruangan pribadi. Itu terlihat dari sebuah papan nama yang tergantung di pintu. "Sebentar!" Terdengar suara seorang wanita menyahut dari dalam. Pintu…
Mengejar Penyusup
Cecilia terbangun saat smartphone yang diletakkannya di bawah bantalnya bergetar dengan keras. Masih setengah terpejam diambilnya benda itu dan menerima panggilan video yang masuk. "Ceci jika besok aku tak kembali, bawalah kotak musik itu ke kediaman Nyonya Liliana bersama Jonathan." Wajah tampan Sebastian…
Bukan Buku Harian Biasa
"Ini kotak musiknya?" Jonathan menatap kotak musik di atas meja. "Lihat, perhatikan dengan seksama. Mirip bukan?" Sebastian membuka sebuah album foto yang diambilnya dari tas kerjanya. "Memang mirip," gumam Jonathan seraya bergantian membandingkan kotak musik itu dengan beberapa foto yang ada dalam album…
Comments
You May Also Like
20 Chapters
Chapter 1: Tugas Terakhir
"Harry, buka pintunya!" Seseorang menggedor pintu rumahnya dan berteriak-teriak dengan keras. Harry dengan malas bangkit dari tempat tidurnya. Diseretnya kakinya dengan enggan untuk membuka pintu. Dengan malas dibukanya pintu kayu yang cukup berat itu. Dan di saat bersamaan sang penggedor pintu tengah mengayunkan…
ReadmoreChapter 2: Fotografer, Kurator Dan Sang Kolektor
Hari ini, dia kembali berkunjung ke balai lelang. Seperti biasanya, menyusuri balai lelang yang luas dengan menenteng kameranya. Dia mengambil gambar beberapa obyek yang menarik perhatiannya. Sebuah lukisan kuno yang sedari kemarin menarik perhatian pengunjung, juga telah menarik hatinya. Fotografi merupakan hobinya semenjak…
ReadmoreChapter 3: Keberhasilan Si Maling Bodoh
Kesibukan terlihat di area gudang balai lelang. Tampak beberapa orang tengah memindahkan barang ke sebuah truk besar. Hari ini, sebagian besar barang-barang koleksi milik balai lelang ini akan dipindahkan ke lokasi pelelangan tahun baru Imlek. Acara itu diadakan di salah satu hotel termewah…
ReadmoreChapter 4: Lukisan Termahal
Suasana di hotel mewah itu sangat meriah malam ini. Selain merayakan tahun baru Imlek, malam ini merupakan pelelangan berbagai banda seni, antik dan kuno dari sebuah balai pelelangan terkemuka di negeri ini. Primadona malam ini adalah sebuah lukisan antik yang ditengarai sebagai karya…
ReadmoreChapter 5: Thousand Face
Desas-desus santer terdengar dalam kalangan kolektor barang seni. Sejumlah kolektor mendapatkan informasi tentang keberadaan lukisan yang diklaim sebagai asli karya Zhou Mengfu. Itu terungkap tanpa sengaja, saat sebuah acara talk show mengundang seorang pengusaha keturunan China yang berdomisili di Kanada. Acara talk show…
ReadmoreChapter 6: Dua Pria Tampan
"Tuan Lim, lukisan ini merupakan warisan dari kakek buyutku. Aku sendiri tidak pernah menyadari nilai lukisan ini. Jika saja tidak ada keributan dua lukisan palsu itu, aku tidak akan pernah mengetahuinya." Pria muda itu berbicara dengan tenang. Dia tengah bernegosiasi dengan Tuan Alexander…
ReadmoreChapter 7: Kakak-beradik Lim
"Alex, kau benar-benar mempermainkan banyak orang semalam!" William Lim berdiri di depan jendela kantor sang adik dan menatap jalanan di bawah sana. "Oh ya? Itu hanya sebuah hadiah kecil untuk kakek." Alex menyahut ucapan sang kakak dengan santai. Dia duduk dengan santai, menyilangkan…
ReadmoreChapter 8: Kau Harry Si Bukan?
"Hei ada yang mencarimu!" Cecilia, memanggil Sebastian. "Siapa?" tanyanya sembari merapikan lembaran-lembaran foto yang berserakan di atas meja. "Lihat saja sendiri! Ko Basti, bisakah kau memberikan kontaknya atau akun media sosialnya untukku?" Cecilia mengedipkan mata dan menunjuk pada pintu dengan dagunya. Sebastian hanya…
ReadmoreChapter 9: Keluarga Lim
"Tuan William saya sudah memberikan nota kepada Tuan Felix Chow." Seorang wanita melapor pada William Lim yang tengah sibuk dengan pekerjaannya. "Kerja bagus. Bagaimana reaksinya?" William sama sekali tidak mengalihkan perhatiannya dari kertas-kertas di tangannya. "Dia meminta waktu untuk memperjelas kasus ini untuk…
ReadmoreChapter 10: Masa Lalu
Felix Chow menatap pria yang duduk di depannya. Keduanya terdiam beberapa saat. "Jadi kasus ini dihentikan?" Darren Wang bertanya dengan serius. "Begitulah! Lebih tepatnya kita serahkan pada interpol internasional. Karena ini menyangkut banyak pihak dari berbagai negara." Felix menjelaskan dengan tegas. "Bukan karena…
ReadmoreChapter 11: Ivy Dan Milli
Suara ketukan pintu mengejutkan Milli. Gadis itu bergegas membuka pintu rumahnya. "Kau?" Sosok yang berdiri di depan pintu membuatnya terkejut setengah mati. Seorang wanita yang selalu ingin dihindarinya sebisa mungkin. "Di mana Harry Si?" Wanita itu bertanya tanpa ekspresi, menatapnya tajam. "Ivy, apa…
ReadmoreChapter 12: Bukan Saat Yang Tepat Untuk Melepas Rindu
"Apa yang akan kau lakukan Harry!" Milli berteriak ketakutan. "Kau takut? Bukankah Milli bukan seorang gadis penakut? Kau gadis yang hebat bukan?" Harry terkekeh senang melihat semburat ketakutan di raut wajah Milli. Seandainya Milli mau ikut dengannya waktu itu, mungkin Harry tidak akan…
ReadmoreChapter 13: Sepatu Kaca
"Duduklah!" Pria berjaket kulit hitam itu mempersilakannya untuk duduk. Harry duduk di kursi yang berseberangan dengan pria itu. Keduanya bertemu di sebuah kedai kopi di sudut jalan yang sepi. "Aku ingin kau mendapatkan ini untukku. Seseorang merekomendasikan dirimu untuk pekerjaan ini." Pria itu…
ReadmoreChapter 14: Di Klub Malam
"Hei Basti! Di sini!" Alex berseru memanggil Sebastian yang baru saja memasuki klub malam terpopuler kota. "Tumben kemari?" Sebastian tersenyum dan duduk di sebelah Alex. Pria itu tengah merokok dengan sebotol Vermont di atas mejanya. Tentu saja tak ketinggalan beberapa makanan ringan dan…
ReadmoreChapter 15: Depeche
Butik itu baru saja dibuka. Sebastian berdiri di depan pintu kaca dan mendongak menatap papan nama yang terpampang di atasnya. "Depeche," gumamnya pelan. Sebuah kata yang tidak dipahami maknanya. "Tuan Sebastian Xie?" Tiba-tiba saja seorang pramuniaga keluar dan menyapanya. "Iya betul." Sebastian sedikit…
ReadmoreChapter 16: Bahagia Hidup Bersamamu
"Tempat yang sangat sulit untuk ditembus. Dengan sistem pengamanan yang canggih dan kamera pengawas di mana-mana." Harry tersenyum menatap butik di depannya dengan seksama. Tengah malam seperti ini, Depeche telah tutup sedari jam sepuluh malam tadi. Lampu-lampu telah dimatikan dan hanya menyisakan sebuah…
ReadmoreChapter 17: Kebakaran
"Tuan Xie, hari ini terakhir pemotretan bukan?" Salah seorang karyawan butik bertanya pada Sebastian. "Iya, Nona!" Sahut Sebastian tanpa mengalihkan perhatiannya dari sepasang sepatu yang telah diatur sedemikian rupa sehingga terlihat sangat menonjol di atas meja kayu berukir. "Baiklah! Saya akan memeriksa beberapa…
ReadmoreChapter 18: Fotografer Yang Mencurigakan
"Hanya sebuah kecerobohan kecil saja!" Darren Wang bergumam menatap lembaran laporan di tangannya. "Benar Pak! Menurut keterangan, sepertinya Nona Jill sendiri yang lupa mematikan puntung rokoknya sebelum dia meninggalkan ruangan kerjanya. Setelah itu fotografer yang melakukan pemotretan menyadari adanya asap." Kai, rekannya, melaporkan…
ReadmoreChapter 19: Kaulah Cinderella-ku
Suasana di butik Depeche malam ini sangat meriah. Peluncuran produk baru mereka dihadiri tamu undangan dari berbagai kalangan. "Aku penasaran dengan sepatu mereka kali ini," bisik Veronica Lim pada Ivy. Keduanya juga merupakan tamu undangan di acara itu. Veronica tentu saja dikarenakan dia…
ReadmoreChapter 20: Anthony Wong
"Kau baik-baik saja?" Harry berjongkok di depan Milli. Gadis berambut ikal itu menatapnya ketakutan. Dia memeluk kedua lututnya erat-erat. "Milli kenapa kau takut padaku? Bukankah aku orang yang bodoh dan konyol?" Harry tersenyum dan merapikan rambut ikal Milli yang tergerai berantakan. …
Readmore





