Table of Contents
Lates Chapters
Kebahagiaan Yang Sesungguhnya
Satu Bulan Kemudian ... Terkadang memang sulit membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Di mana keinginan selalu ingin kita prioritaskan sehingga kita lupa ada kebutuhan yang juga menjadi pilihan pelik untuk ditinggalkan. Begitu pun dengan Ningsih. Berbalut gaun putih,…
Ningsih Setia Asih
“Ini minum dulu!” Bu Santi menyodorkan secangkir wedang jahe. “semalaman kamu gak tidur, setidaknya ini bisa buat badan kamu segar.” lanjutnya seraya duduk di sebuah kursi kayu yang dipisahkan dengan meja bundar berukuran kecil di teras rumahnya. Ningsih sama sekali belum makan…
Kembali Luka
“Ning!” suara Rey terdengar sangat jelas. Ia menyentuh pundak mantan istrinya itu. Ningsih yang tertidur mulai terjaga dan membuka matanya. Tangannya dan lehernya sedikit pegal akibat merebahkan kepalanya ke kasur sembari duduk. Semalaman ia tak tidur, baru tadi setelah…
Ikhlas
“Aku ikhlas jika kamu kembali kepada Mas Rey, Ning!” mata yang berbinar tak dapat disembunyikannya. Entah dari mana ia tahu tempat tinggal Ningsih. Tiba-tiba saja muncul dan melontarkan pernyataan yang tak masuk akal menurut Ningsih. Febi terlihat sangat kurus, Ningsih memperhatikan pipi…
Perawan
“Aku juga istrimu, Mas!” nada suara Febi kali ini cukup keras. Ia merasa lelah menghadapi sikap Rey yang semakin hari semakin membencinya. Kepergian Ningsih tak lantas membuat Rey menerima Febi, justru sebaliknya, ia sangat muak melihat istrinya. “Iya…
Comments
2 pemikiran pada “Topeng di Balik Pernikahan”
Tinggalkan komentar
20 Chapters
Chapter 1: Rintih
Setelah meracuni anak dan suaminya, Sekar menulusuri jalanan sepi di komplek rumahnya. Tempat biasa tukang sayur mangkal, dan diriuhkan oleh ibu-ibu muda yang hobinya ghibah. Tapi jam segini, belum ada manusia yang melintas, mungkin masih asyik menyantap sahur. Sesekali Sekar merapikan selendangnya yang…
ReadmoreChapter 2: Janur Kuning
Selain melarikan diri dari pernikahannya, Ningsih juga meninggalkan surat berisi rincian hutang yang harus dilunasi tantenya, Hanum. Angka yang tidak kecil bagi keluarga dengan ekonomi menengah ke bawah. Bukan hanya dikejutkan oleh hutangnya, Hanum juga sedang mondar-mandir memikirkan siapa yang akan menggantikan…
ReadmoreChapter 3: PICU
“Ibu ada di sini, Nak!” ia mengusap kaca yang ada di hadapannya. Helaan napasnya membuat kaca bening itu sedikit berkabut. Semua peralatan medis yang melekat pada tubuh putrinya semakin membuatnya merasa bersalah. Selang yang menghubungkan sumber makanan dan lambung, tabung oksigen…
ReadmoreChapter 4: Map Merah
Bagaimana mungkin Febi tidak bahagia, sebuah pesan singkat mendarat di handphonenya. Pesan dari lelaki yang sejak satu minggu lalu dinikahinya. Selama itu pula ia tak pernah lagi melihat suaminya, pergi tanpa kabar apa pun. Selama satu minggu pula ia memupuk rindu. Rindu…
ReadmoreChapter 5: Darah
Setelah meletakkan sebilah pisau berlumuran darah, Ratih tergopoh-gopoh pergi meninggalkan rumahnya. Semua aset dan perhiasan ikut serta dibawanya. Bahkan rumah yang ditinggalkannya itu sudah memiliki pemilik baru dan akan menempatinya seminggu lagi, sesuai perjanjian yang telah disepakati. Dalam waktu yang begitu…
ReadmoreChapter 6: Kue ulang Tahun
Setelah meletakkan kue ulang tahun di atas meja di kamarnya, ia membangunkan Febi dengan menepuk bahunya. Febi yang belum sepenuhnya sadar, berkali-kali memeluk erat tubuhnya, berusaha membangunkan diri jika memang ini hanya mimpi belaka. “Selamat ulang tahun” ucap lelaki yang ada…
ReadmoreChapter 7: Selamat Jalan, Ratih
Jenazah Ratih keluar dari mobilnya. Hidung dan telinganya berlumuran darah. Pecahan kaca mobil membanjiri jalan, membuat orang-orang sangat hati-hati melewatinya. Tak sedikit dari pecahan tersebut ikut merobek kulitnya. Beberapa pengendara lainnya ikut melihat, dan mulai bertanya tentang keadaan Ratih pada seorang wanita yang…
ReadmoreChapter 8: Ningsih
Betapa terkejutnya Febi menatap gadis yang ada di hadapannya. Rasanya ia ingin segera menutup lift yang telah terbuka akibat ulah jemarinya sendiri. Beberapa detik ia terpaku sebelum sadar bahwa ia harus segera sampai ke lantai tujuh. Perlahan ia memasuki lift tersebut dan…
ReadmoreChapter 9: Cinta
“Aku bahkan rela pindah agama demi menikahimu, Ning!” ucap Rey setelah melepaskan lengan Ningsih. Benar saja, tepat dua bulan sebelum rencana pernikahan mereka digelar, lelaki tampan itu telah pindah keyakinan. Tentunya itu cukup meyakinkan Ningsih betapa besarnya cinta yang dimiliki Rey.…
ReadmoreChapter 10: Cincin
“Aku ingin menikahimu, Ning!” pungkasnya. Ia menyodorkan sepasang cincin yang sangat cantik kepada gadisnya. Cincin yang persis sama seperti cincin pernikahan mereka sebelumnya, pernikahan yang tiba-tiba saja batal. Sudah satu bulan Rey bertahan sejak pertemuan mereka kala itu. Ia terus…
ReadmoreChapter 11: Hamil
“Aku hamil, Ma!” Pernyataan wanita yang ada di hadapannya membuat Betty tercengang. Ia sedikit memijat dahinya, berusaha menenangkan batinnya yang bergejolak. Sementara di sudut sana, terlihat Hanum yang mengangguk, mengiyakan keberanian putrinya. Febi yang awalnya ragu untuk berterus terang, kini…
ReadmoreChapter 12: Janur Kuning 2
“Sah!” Febi menatap tabu para tamu yang sedang berdoa. Ia juga ikut menadahkan tangan meski sebutir air matanya menetes. Pernikahan yang hanya dihadiri keluarga dan kerabat dekat itu begitu sakral dan menenangkan. Hanum yang berada di samping putrinya tak bisa…
ReadmoreChapter 13: Malam Pertama
Mohon terus dukung Novel Janur Kuning di Rumah Tanteku, like dan comment ya :) “Akan aku buat Mas Rey tak akan melupakan malam pertama kami!” ujar Ningsih. Ia sangat berambisi. Entah itu sungguhan, atau hanya ingin membuat Febi cemburu. Ini…
ReadmoreChapter 14: Pesan Singkat
“Mas, maaf mengganggumu. Hari ini dokter bertanya tentang kehadiranmu dalam pemeriksaan kedua. Ada masalah dengan bayi kita. Semoga saat pemeriksaan selanjutnya kamu bisa datang.” Melayangnya sebuah pesan singkat untuk suaminya juga ikut melayangkan pikirannya sendiri. Mungkin Rey tak akan membacanya,…
ReadmoreChapter 15: Bui
“Aku mohon, Ning!” Febi tersungkur di bawah kaki Ningsih, berharap wanita yang ada di hadapannya luluh. Tapi sepertinya percuma. Ia sama sekali tak menggubrisnya, tatapannya datar dan penuh emosi, namun sebisa mungkin ia tahan. “Cukup, Nak!” jerit Hanum. Meskipun…
ReadmoreChapter 16: Syarat
“Aku akan mencabut tuntutanku,” apa yang diujar oleh Ningsih membuat Febi sedikit lebih lega dari sebelumnya. Ia yang awalnya berulang kali tersungkur di hadapan Ningsih, selalu diabaikan begitu saja oleh kakak kandungnya itu. Kali ini ia mencoba keberuntungannya lagi. Menemui Ningsih di…
ReadmoreChapter 17: Sakit
“Tidak harus kamu yang menemaninya, Rey!” Retno langsung menyela pembicaraan Febi dan suaminya. Febi pun merasa menyesal, seharusnya ia tidak bicara saat makan malam seperti saat ini. Mungkin bisa mencari waktu kosong di tempat lain, atau di ruang kerja Rey saja. Tapi…
ReadmoreChapter 18: Percuma
“Seharusnya kamu mati di tangan ibumu sendiri 25 tahun yang lalu!” cecar Hanum. Sepertinya percuma saja menyambangi Hanum di penjara. Ia sama sekali tak memberi jawaban yang diinginkan Ningsih. Justru sebaliknya, sifat keras dan kasar yang dimiliki Hanum semakin menjadi-jadi pada Ningsih, ia…
ReadmoreChapter 19: Jesi
“Benarkah ia Asih? Bayi yang aku cari selama 25 tahun?” monolognya. Berpura-pura untuk memeriksa psikologi Febi, dokter yang baru ia kenal tempo hari datang ke rumahnya. Sebenarnya terlalu lancang jika masuk ke kamar orang lain, tapi Febi yang lugu dengan…
ReadmoreChapter 20: Lelah
“Apa aku harus menceraikannya sekarang, Ning?” pertanyaan Rey tak lantas membuat istrinya bergeming. Ningsih merasa sudah sangat lelah. Bukan karena menjadi istri seorang Rey, tetapi ia tak sanggup lagi menjadi istri kedua. Apalagi cemoohan orang tak henti mencibirnya, tanpa mereka tahu…
Readmore






Assalamualaikum pembaca setia karya Aini Pien, jangan lupa baca novel terbaru Aini Pien dengan judul “Grup Arisan Keluarga Suami” rilis eksklusif di novelgood.id, Happy reading 🙂
Hai, Bagi pembaca setiaku, yang suka baca di APK Fizzo, boleh singgah di karyaku yang berjudul:
1. Tulang Rusuk Kakak
2. Ayah, Izinkan Aku Durhaka
Terima kasih pembaca setia karya-karya Aini Pien 🙂