Table of Contents
Lates Chapters
Melahirkan( happy ending)
Hampir seperempat jam, akhirnya mobil Alex tiba di klinik. Alex memarkirkan mobilnya. Alex keluar, lalu memanggil suster untuk membantu Erina. Dua orang suster mengikuti Alex sampai mobil dengan membawa brankar. Tiba di mobil Alex langsung menyuruh Mama keluar terlebih dulu, lalu setelahnya Alex…
Erina kontraksi.
Erina menunggu Alex di dalam mobil. Erina sudah tidak sabar untuk menyantap belalang goreng. Air liurnya sudah ingin menetes membayangkan betapa renyahnya belalang berpadu gurih, pedas manisnya bumbu. Uh! Pasti sangat nikmat. Ngidam yang ekstrim bukan? Erina pun baru kali ini sebenarnya, sebesar…
Perkara belalang goreng.
Hoam. Erina menutup mulutnya. Saat ini Erina baru saja bagun tidur siang, Erina tersenyum pertama kali ketika membuka mata pemandangan indah ada di hadapannya. Bagaimana tidak! Wajah Alex berada tepat di hadapan wajahnya. Malam tadi mereka tidur saling memeluk satu sama lainya. Erina …
Mengunjungi Via.
Lubis memperhatikan gambar yang di tunjuk Alika, raut wajahnya seketika berubah. Lubis memperhatikan foto USG yang ada di tangannya. Mata berbinar memancarkan kebahagian. "Alika! Apa keponakan ku laki laki?" tanya Lubis dengan nada sangat bersemangat. Alika mengangguk."Ia Mas, menurut hasil USG ini bayi…
Lubis meminta maaf.
Dokter Lidia tersenyum, lalu pandangannya mengarah ke layar. "Sepertinya Dede bayi masih malu malu, tuh liat di sembunyikan." ucap Dokter Lidia terkikik pelan. Posisi bayi saat ini sedikit memiringkan tubuhnya hingga bagian alat kelaminnya tertutupi. Alex dan Erina menarik sudut bibirnya mengukir…
Comments
20 Chapters
Chapter 1: Perceraian
Suara ketukan Palu dari sang Hakim beberapa saat yang lalu sudah mampu meluluh lantahkan Harapan Erina. Dia tidak menyangka jika suaminya tega menceraikan dirinya tanpa alasan yang jelas. Namun ternyata bukan hanya itu luka yang diberikan suaminya padanya. Baru saja dia melangkah…
ReadmoreChapter 2: Melarikan diri
Alexander nampak frustasi sekali. Otaknya begitu Stres memikirkan kenyataan pahit akhir dari hubungannya dengan Via sang kekasih laknatnya. Alexander melangkah keluar dengan gontai diikuti Arpha. "Apa anda ingin pulang Tuan?" Tanya Arpha. Alexander belum bersuara sampai di depan mobilnya. …
ReadmoreChapter 3: Menebus Erina
Arpha terlihat berjalan mendahului Alex dari Cafe itu. Lalu segera membukakan pintu mobil untuk Alex. Namun betapa terkejutnya Alex saat ia hendak masuk malah mendapati seorang wanita meringkuk di jok mobilnya. "Heh, apa yang kau lakukan? Kau mau mencuri?" Tegur Alex.…
ReadmoreChapter 4: Menikahlah denganku
Sudah sehari semalam Erina berada di apartemen milik Alexander. Arpha seperti tau cara menghargai wanita, bersedia menyiapkan semua kebutuhan Erina dengan bantuan pelayan lain. Erina berterima kasih untuk itu. Arpha hanya mengangguk sambil sekali lagi mengatakan jika Erina harus bertingkah…
ReadmoreChapter 5: Pernikahan
Sepanjang malam Erina tidak bisa memejamkan matanya. Pikirannya terus melayang tak tentu arah. Sebenarnya dia tidak terlalu memikirkan tentang hari besok. Sebab dia yakin, hari pernikahan besok hanyalah sebatas sandiwara saja. Jadi dia tidak terlalu memikirkan itu. Namun yang mengganggu pikirannya adalah, kenapa…
ReadmoreChapter 6: Semua menyukai Erina.
Pesta Pernikahan Alexander telah usai. Para tamu undangan telah menarik tubuhnya satu persatu untuk pulang. Ellena nampak lelah dengan begitu banyaknya ucapan selamat untuk dirinya. Sementara Alex terlihat sumringah. Dia tidak membayangkan jika Hari yang ia khawatir ini bisa berjalan lancar dan semenyenangkan…
ReadmoreChapter 7: Tidak ada malam pertama
Tidak ada malam pertama. Hampir tengah malam, mobil mereka tiba di Apartemen. Arpha segera pergi ke kamarnya setelah memastikan mereka masuk ke dalam Apartemen. Membanting tubuhnya di kasur untuk melepaskan penat. Lelah badan dan pikiran akibat terlalu andil dalam masalah bosnya.…
ReadmoreChapter 8: Mencari kesempatan dalam kesempitan
Mama terlihat tersenyum. 'Wah ternyata menantuku pintar memasak. Jika begini tidak khawatir Alex akan kelaparan.hehehe' tanpa sadar memuji dalam hati. "Kalau begitu kita makan malam bersama saja ya Ma, kak Alin. Biar aku memanggil Tuan Alex dulu." Ucap Erina. "Tuan?" Dua…
ReadmoreChapter 9: Drama malam kedua
Makan malam telah usai. Erina terlihat sibuk membereskan bekas makan mereka. Mama ingin membantu, tapi Erina mencegah. Lalu Alin akhirnya turun tangan untuk membantu. Sementara Alex mengajak Mama ke ruang tengah. Mengobrol ringan disana sambil sesekali Mama masih menyindir Malam pertama mereka.…
ReadmoreChapter 10: Kena juga
Setelah selesai berkemas Erina menyeret kopernya ke luar kamar,sebelum itu ia masuk ke kamar Alex untuk melihatnya apa sudah selesai berkemas. Melihat pintu kamar Alex yang sedikit terbuka Erina masuk tanpa mengetuk pintu." Tuan. Apa sudah selesai?" tanya Erina menghampiri Alex. …
ReadmoreChapter 11: Ngebo
Alexander membawa Erina memasuki kamarnya. Rupanya benar kata Mama jika kamar ini sudah dirias layaknya kamar pengantin. Kamar dengan nuansa putih itu dihiasi dengan banyak bunga bertaburan,di penuhi dengan lilin lilin yang menyala menjadikan kamar ini sangat romantis bagi pasangan yang menikah…
ReadmoreChapter 12: Hari pertama di rumah mertua
Erina gelagapan pastinya. Cepat bergerak untuk bangun. Tapi tangan Alex malah melingkar ke pinggangnya dan menahan tubuhnya. Posisi Erina berada tepat di atas tubuh Alex dengan wajah yang hanya sejarak satu jari. "Tu-Tuan.." Erina mencoba memanggil dengan menahan tubuhnya dengan kedua tangannya.…
ReadmoreChapter 13: Hadiah.
Setelah kepergian Alex. Erina masuk kembali kedalam rumah. Erina berjalan memasuki ruang tamu yang dimana Alin sedang memperhatikannya. Erina tersenyum.Menyapa Alin,"Selamat pagi Kak." ucapnya ramah. "Hem!" Alin menjawab dengan nada di buat sesinis mungkin. Alin pura pura sibuk dengan Handphone nya.…
ReadmoreChapter 14: Perhatian Erina.
Arpha berjalan memasuki kantor dengan sejuta pesonanya.Banyak para karyawan yang mengagumi bos dan asistennya itu. Karena memang wajah mereka yang tampan dan juga mempesona tapi mereka sangat tegas dalam hal apapun. Kini Arpha memasuki lift menekan tombol angka lima dimana ruangan Presedir.…
ReadmoreChapter 15: Seperti hantu
"Aaaaaa…" Erina berteriak. Dengan spontan Erina memegang dadanya dengan satu tangan dan tangan yang yang sebelahnya memegang handuk bagian bawahnya. Alex yang mendengar teriakan Erina pun ikut terkejut.Hampir saja ia loncat karena kaget. Tanpa bicara Erina berlari masuk kembali ke kamar…
ReadmoreChapter 16: Terimakasih hadiahnya
"Tuan….!" Erina mengepalkan tangannya. Yang di dalam kamar mandi tertawa tawa senang. Sambil memikirkan alasan apa nanti jika Arumi benar benar pencak silat. Erina sudah mondar mandir menunggu Alexander keluar dari kamar mandi. Ingin menuntut keadilan dari pria yang sudah menyerobot…
ReadmoreChapter 17: Menyebrang area terlarang
Lama Alex termenung di belakang punggung Erina, hingga akhirnya dia pun terlelap. Tengah malam Erina terbangun, merasakan sesuatu yang menindih tubuhnya seperti malam kemarin. Dia membuka mata untuk memastikan. Wajah tampan itu terlelap seperti tanpa beban. Hampir saja Erina berteriak. Namun…
ReadmoreChapter 18: Jebakan Mama
Sekilas Mama udah bisa membaca apa yang terjadi dengan melihat gelagat Alexander. Mama nampak tersenyum gemes melihat tingkah Mereka, lalu melenggang pergi begitu saja. Mama berjalan angkuh, walau sambil pura pura pincang, terlihat dia memegang dadanya sendiri. Ada rasa bahagia ketika menatap…
ReadmoreChapter 19: Lulus ujian
Gadis itu masih berdiri terpaku sambil mendekap koper. Sejenak dia tersadar lalu buru buru berjalan keluar. Menaruh dahulu paku dan palu untuk mengunci pintu kembali tanpa melepaskan koper itu dari tubuhnya. Selesai, dia segera beranjak meninggalkan gudang selepas menyambar paku dan palu. …
ReadmoreChapter 20: Khayalan Mama
Masih saja terdengar gelak canda tawa dari kamar Mama. Sepertinya Alin juga sudah bergabung di sana beberapa saat yang lalu. Selesai makan siang tadi, Alin ikut menguntit di belakang bokong Mama rupanya, saat mendengar Mama kembali mengajak Erina ke kamarnya. Akhirnya tiga…
Readmore





